Mengulang Hari Kelahiran

Entah, tahun ini umurku sudah berapa ya? 2015-1978 = 37 tahun…. (ya ampun harus mengambil kalkulator untuk menghitungnya). Smoga ini bukan langkah untuk melupakan umur.

Umur hanyalah angka penanda bahwa kita sudah hidup di dunia selama sekian tahun. Penanda pula bahwa kita harus peduli pada kesehatan. Penanda pula bahwa kita sudah dewasa dan harus bersikap dewasa.

Dewasa…yak kata itu cukup menghantuiku akhir-akhir ini? Sudahkah saya cukup dewasa menghadapi segala permasalahan hidup? Saya malu untuk mengiyakan bahwa saya telah dewasa.

Saya justru merasa akhir2 ini, kehilangan kesabaran, tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Saya merasa kehilangan diri saya yang dulu. Cap emosi, tukang marah mulai melekat ke diriku.

apakah penyebabnya? Lama berdialog dengan diriku. saya berpikir jangan-jangan karena saya terlalu sering menyimpan rasa senang, jengkel, sedih sendiri. Aku terlalu pelit untuk membaginya ke orang lain. Saya menciptakan tembok tinggi supaya orang lain tidak perlu melihat diriku.

Bukan tanpa alasan saya melakukan itu. Saya merasa banyak kekecewaan yang belum tersembuhkan.

Ah…ini kok malah ngomongin keluhan. saya tak kuasa berkata2 lagi. tembok itu terlalu tebal dan kuat, bahkan saya tak sanggup lagi berkata-kata lagi dalam tulisan.

Saya punya harapan kuat ke depan , bisa meruntuhkan tembok bikinan saya sendiri. Saya rindu kehadiran teman yang bisa mendengarkan saya, bukan menghakimi saya. Teman yang bisa membuat saya tertawa lepas cekikian tanpa beban.

Teman..iya teman..teman, sekaligus sahabat. syukur-syukur bisa bertemu dengan beda jenis kelamin.

Amin.

18 Juni 2015

Ditengah kegalauan dengan kondisi kantor, kondisi pribadi dan menahan tangisan dalam hati

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEKECEWAAN

Bukan sekali ini aku kecewa. Sudah puluhan kali aku merasakan hal tersebut. Yah sudah pengalaman. Biasanya aku punya trik khusus utk melupakannya.

Tapi kali ini tidak. Susah sekali melupakannya. Aku tetap merasa sakit. Hampir merasa diperbudak urusan kantor. dan..yah…. merasa tak dihargai…

Tapi…meski sulit, tetap harus dibuang. Masih banyak yg harus kukerjakan selama sebulan ini. Butuh perban dan kapas yang kuat utk mengobati luka hati ini.

Butuh pelukan kuat utk bs melegakan hati.

Selamat malam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pernikahan

Untuk sekian kalinya saya menghadiri pernikahan sahabat2 saya. kapan ya trakhir kali menghadiri pernikahan seorang sahabat?lupa. Mungkin 5 tahun yll. Kali ini tgl 14 maret saya menghadirinya lagi. Pernikahan seorang teman kontrakan yg sekaligus teman ngecipris, teman dolan, dan teman diskusi.

Ada kerinduan jg utk bisa menjadi lakon dalam sebuah pernikahan. Entah kapan itu.entah berapa tahun lagi. Mungkin Tuhan sedang merencanakan sebuah rencana hebat untukku.

Marilah kita tunggu sembari menikmati dan mensyukuri dunia ini.

Happy wedding Indah

Ha

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masih Ada Harapan Terang untuk Jakarta

Banjir, macet, kriminalitas memang masih terus menghantui Jakarta setahun ini. Sisi gelap Jakarta tersebut tidak secara instan bisa disulap hilang. Sebaliknya sisi terang mulai muncul. Taman-PKL-permukiman padat-trotoar, perlahan tertata. Sisi terang inilah yang memberi harapan pada masyarakat pada terwujudnya ‘Jakarta Baru’.

Oleh : M. Puteri Rosalina

Masalah banjir, macet, kriminalitas, sampah bahkan ketersediaan air baku bukan saja menjadi milik kota Jakarta. Kota besar lain di Indonesia bahkan dunia pun juga mengalami hal yang sama. Semuanya muncul karena ekses dari peningkatan jumlah penduduk akibat proses urbanisasi.

                Mengatasi masalah Jakarta tidak mudah mengingat semuanya sudah telanjur mengakar. Banjir misalnya, sudah sejak jaman Belanda, Jakarta selalu kebanjiran saat musim hujan. Kondisi bentang alam Jakarta yang terletak di dataran rendah, berhadapan dengan laut, serta dialiri 13 sungai menakdirkan kota ini selalu banjir. Tidak hanya faktor alam, perilaku warganya yang merusak lingkungan dengan membuang sampah ke sungai, serta membangun di daerah tangkapan air, semakin memperburuk kondisi.

Namun bukan berarti pemerintah dari dulu sampai sekarang tinggal diam. Berbagai proyek telah digulirkan untuk mengatasi banjir Jakarta. Namun, proyek-proyek tersebut sifatnya tambal sulam saja, hanya serius dilakukan setelah banjir besar terjadi, bahkan tidak menangani banjir dari akar persoalan yaitu mengurangi air larian di hulu daerah aliran sungai.

                Berbeda dengan banjir, kemacetan baru muncul sekitar tahun 1990-an ketika penggunaan kendaran pribadi semakin meningkat. Sejumlah penanganan macet sejak kepemimpinan Wiyogo Atmodarminto sudah ada. Salah satu yang masih berlaku sampai sekarang adalah kebijakan pembatasan penumpang three in one di beberapa ruas jalan. Upaya lain yang terus dilakukan adalah pembangunan jalan baik landed, fly over, sampai underpass. Tapi tetap saja problem transportasi tersebut belum selesai.

                Kondisi banjir dan macet yang masih berlangsung sampai sekarang tergambar dalam hasil Survei Evaluasi Setahun Kinerja Gubernur Jakarta. Publik menilai kondisi transportasi, lingkungan hidup dan keamanan cukup buruk yang diwakili oleh nilai lima.

Akan tetapi bukan berarti Jokowi-Ahok selama setahun ini tidak melakukan perbaikan dalam tiga bidang tersebut. Transportasi misalnya, Jokowi lebih fokus pada pengembangan moda transportasi umum massal untuk mengurangi kemacetan. Sejumlah armada bus kecil/besar dan bus Transjakarta telah dipesan untuk menambah armada. Namun karena terkendala anggaran, pesanan datang terlambat. Selain itu juga merevitalisasi angkutan umum baik kondisi fisik armada sampai perbaikan manajemen. Rencana pembangunan monorel/MRT yang sempat ’mati suri’ bertahun-tahun dihidupkan kembali.

                Sejumlah tindakan penanganan banjir, macet, dan keamanan yang telah dilakukan memang tidak serta menghilangkan masalah. Setidaknya butuh proses lebih dari lima tahun untuk bisa menanggulanginya.

                Nilai merah pada tiga bidang tersebut tidak memengaruhi penilaian publik pada seluruh kondisi Jakarta. Indeks penilaian kondisi Jakarta berkisar pada angka 6 yang berarti baik. Meski bukan angka yang ‘briliant’ tapi sudah menunjukkan ada perubahan di Jakarta.

                Perubahan itu nyata dan memberi harapan baru bahwa semua masalah Jakarta akan sirna. Sejak dilantik setahun yang lalu, Jokowi-Ahok selalu memunculkan gebrakan-gebrakan baru yang terkadang melahirkan pro-kontra di masyarakat.

Terakhir yang kontroversial adalah penataan PKL di Tanah Abang. Dari dulu masyarakat dan pemerintah sudah pasrah kondisi Tanah Abang yang selalu ruwet dan macet. Akan tetapi Agustus lalu, ada perubahan besar terjadi. Sejak itu, tidak ditemukan lagi keruwetan dan kemacetan di Tanah Abang. Publik menilai cukup puas (nilai 7) dengan kebijakan penataan PKL Tanah Abang.

Tidak hanya Tanah Abang, gebrakan-gebrakan lain yang mengubah wajah Jakarta melahirkan pujian pada kondisi Jakarta. “Jakarta sekarang lebih baik-lebih indah-lebih rapi,” kata Agus seorang tukang ojek yang beroperasi di Stasiun Tanah Abang. “Ada kemajuan signifikan dari Jakarta,” sebut Iswandono yang sudah 38 Tahun tinggal di Jakarta.

                Sebenarnya yang dilakukan pemimpin baru Jakarta tersebut bukanlah hal yang besar dan baru. Jokowi dalam sebuah wawancara di televisi menyebutkan ingin menjadikan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi dan manusiawi.

Keinginan menjadikan Jakarta sebagai kota yang manusiawi tersebut diturunkan ke dalam sembilan program kerja unggulan : pengembangan angkutan umum massal, pengendalian banjir, perumahan rakyat dan penataan kampung, pengembangan RTH, penataan PKL, pengembangan pendidikan, kesehatan, budaya, serta pelayanan publik.

                Program unggulan tersebut sebenarnya bukan program baru. Jokowi hanya meneruskan kebijakan gubernur-gubernur sebelumnya. Seperti upaya penanganan banjir dengan normalisasi sungai, pembangunan polder, revitalisasi situ, serta pengembangan kapasitas sungai dan drainase. Dulu, program tersebut tidak pernah dituntaskan pelaksanaannya. Atau bahkan hanya berhenti pada keluarnya sebuah produk hukum tanpa realisasi yang tegas.

Pelaksanaan Kebijakan

Sejumlah kebijakan mulai dilaksanakan dan diterapkan dalam setahun kepemimpinannya. Jokowi-Ahok memang belum menuntaskan semua masalah yang ada tapi mencoba untuk melaksanakan 9 program tersebut secara bersamaan.

Perumahan rakyat, misalnya. Pada beberapa segmen telah menunjukkan hasil dengan pembangunan kampung deret di Tanah Tinggi, relokasi penduduk di bantaran sungai/rel KA ke sejumlah rusun yang tadinya tidak terpakai, sampai proses pembangunan rusun baru. Pengembangan pendidikan-kesehatan dengan meluncurkan program Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Meski dalam pelaksanaannya masih banyak kendala.

Hasil kerja nyata tersebut juga dinilai positif oleh publik. Nilai indikator perumahan yang pada evaluasi 100 hari kinerja masih mendapat nilai 5, setahun kemudian naik menjadi 6, yang berarti membaik.

 

Apresiasi Positif

Sisi buruk Jakarta memang masih ada, tapi masyarakat mengapresiasi positif apa yang telah dilakukan gubernur-wabub selama setahun ini. Apresiasi tersebut ditunjukkan dalam penilaian dengan skala 6 sampai 8 pada masing-masing indikator. Masyarakat cukup puas dengan apa yang telah dilakukan Jokowi setahun ini.

                Apresiasi bagus dari masyarakat tidak otomatis diikuti oleh keyakinan dengan kinerja seorang pemimpin wilayah. Banyak kasus terjadi setelah mendapat pujian dari masyarakat, pemimpin akan terlena dan kinerjanya menurun. Kali ini berbeda, publik Jakarta cukup yakin dengan kepemimpinan Jokowi-Ahok yang ditunjukkan dengan nilai 7.

                Jokowi-Ahok tidak boleh terlena dengan apa yang telah dilakukannya setahun ini. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan karena selama ini hanya menyentuh permukaan masalah dan dalam skala kecil saja. Jangan sampai merusak harapan Ciko (36), warga yang setiap harinya menempuh kemacetan Bekasi-Rawamangun. ”Semoga kemacetan ini bisa terpecahkan tak berapa lama lagi”.

 

 

 

 

PENILAIAN KEPUASAN dan HARAPAN terhadap

SATU TAHUN KEPEMIMPINAN GUBERNUR DKI JAKARTA

INDIKATOR

 KONDISI JAKARTA

KEPUASAN

HARAPAN

Lingkungan Hidup

5.96

6.41

7.61

Air bersih

6.86

7.00

7.48

Pendidikan

7.25

7.55

8.00

Kesehatan

6.97

7.32

7.67

Relasi Sosial

7.56

7.66

Text Box: Keterangan :<br /><br />
Penilaian kondisi saat ini : 1 sangat buruk ; 10 sangat baik<br /><br />
Penilaian kepuasan kinerja : 1 sangat tidak puas ; 10 sangat puas<br /><br />
Penilaian harapan kinerja : 1 sangat tidak yakin ; 10 sangat yakin</p><br />
<p>7.68

Ekonomi

6.05

6.47

7.11

Perumahan

6.00

6.75

7.35

Infrastruktur

6.21

6.55

7.44

Transportasi Publik

5.74

6.02

7.29

Keamanan

5.08

5.55

6.89

Birokrasi

6.91

7.19

7.56

Pelayanan Listrik

7.18

8.63

7.56

Sarana Wisata

6.71

7.73

7.50

Total Penilaian

6.50

6.99

7.47

Metode Survei :

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka diselenggarakan LItbang Kompas pada …… Sebanyak 596 responden berusia 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari daftar pemilih tetap pada Pilkada Gubernur Jakarta 2012. Responden berdomisili di Jakarta. Menggunakan metode ini pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian ± 4 persen. Meski demikan, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil skor penilaian warga merupakan skor rata-rata 13 aspek persoalan yang dihimpun dari 47 sub indikator persoalan

 

PROGRAM KERJA PEMPROV DKI JAKARTA

Program

Sejumlah Kebijakan

1.    Pengembangan Sistem angkutan umum massal

Peremajaan bus sedang dengan pola hibah dan subsidi, penambahan armada bus& bus transjakarta, pembangunan koridor XIII bus transjakarta, penertiban parkir, Rencana penerapan ERP, transportasi air di Marunda, pembangunan MRT, tarif parkir tinggi di badan jalan

2.    Pengendalian banjir

Normalisasi sungai ciliwung, Pesanggrahan, revitalisasi waduk (Pluit, Ria Rio, Tomang Barat,

3.       Perumahan rakyat dan penataan kampung

Perbaikan Rusun Marunda, pembangunan kampung deret di Tanah TInggi, Pembenahan kampung kumuh, relokasi permukiman di sekitar waduk Pluit, pembangunan rusunawa di Tambora,

4.       Pengembangan RTH

Menambah taman di Waduk Pluit, RIa Rio, mengembangkan 1000 taman interaktif di kelurahan

5.       Penataan PKL

PKL Tanah Abang, Pasar Gembrong, Pasar Minggu, Jatinegara, kawasan Kota

6.       Pengembangan pendidikan

Kartu Jakarta Pintar

7.       Pengembangan kesehatan

Kartu Jakarta Sehat, dokter keluarga

8.       Pengembangan budaya

PNS mengenakan baju betawi setiap rabu, pesta rakyat

9.    Pengembangan pelayanan publik

Mengubah desain tata ruang tempat pelayanan public, pembentukan RT,RW, dan KTP untuk warga Tanah Merah dan Kampung Beting, lelang jabatan birokrasi, merombak jajaran SKPD, publikasi APBD DKI Jakarta,

Sumber :Litbang Kompas/PUT/STI, diolah dari pemberitaan Kompas

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KETIKA THR TAK LAGI CUKUP

(ermuat di Kompas 21 jULI 2013)

Tahun ini, Tunjangan Hari Raya (THR) akan sangat berarti bagi masyarakat yang merayakan Lebaran. Harga sejumlah kebutuhan pokok yang melonjak, biaya transportasi yang meningkat akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, membuat bayangan biaya kebutuhan lebaran bakal membengkak.

Gambaran tersebut tecermin dalam hasil jajak pendapat Kompas. Terjadi penurunan proporsi responden yang merasa cukup dengan THR-nya dan kenaikan proporsi yang merasa tidak cukup. Sebanyak 65,2 persen responden mengaku, penerimaan THR dari perusahaan tempatnya bekerja diperkirakan cukup untuk berbelanja berbagai kebutuhan lebaran. Jumlah ini sedikit menurun dari jumlah responden tahun 2012 lalu, dimana 76 persen responden menyatakan penerimaan THR dari tempat kerja dianggap mencukupi.

Di sisi lain, tahun ini ada peningkatan kelompok responden yang merasa bahwa perolehan THR-nya bakal tak mencukupi kebutuhan lebaran. Tahun lalu, hanya 16 persen responden yang masuk kategori ini, sedangkan tahun ini naik menjadi sekitar seperlima bagian responden.

Hal ini menguatkan persepsi bahwa lonjakan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dan harga BBM cukup memengaruhi penerimaan tunjangan lebaran untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Seperti yang dinyatakan seorang responden, Cica (37), untuk lebaran kali ini kenaikan pengeluaran untuk puasa, mudik dan lebaran sudah di depan mata.

Selain kenaikan harga bahan pokok yang sudah dialami, komposisi biaya transport diperkirakan akan menjadi berlipat. Cica menyatakan, tahun 2012 lalu untuk biaya mudik dari Jakarta ke kampungnya di Pemalang, Jawa Tengah menghabiskan sekitar Rp 500 ribu. Saat itu Cica menggunakan mobil pribadi yang ditumpangi seluruh keluarga. Namun dengan kenaikan harga bensin saat ini, biaya keseluruhan perjalanan pulang dengan naik mobil pribadi diperkirakan bakal melonjak sampai dua kali lipat. Padahal, kebutuhan pengeluaran lebaran tak hanya itu. Untuk konsumsi lebaran lainnya seperti membeli baju baru, oleh-oleh untuk kampung, serta hidangan lebaran juga sudah pasti harus disiapkan.

Dengan berbagai pertimbangan itu, Cica dan keluarga besarnya memutuskan mudik lebaran tahun ini menggunakan bus umum dengan pertimbangan biayanya bisa lebih dihemat. Dengan siasat mengubah moda transportasi itu pun ternyata masih belum bisa “menyelamatkan” anggaran pengeluaran keluarga Cica dari “keseimbangan” antara THR dan kebutuhan pengeluaran. Alhasil, Cica mengaku terpaksa menggunakan uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan lebaran tahun ini.

 

Mengambil tabungan

Sama seperti nasib Cica, hampir separuh responden (47 persen) dari kelompok responden yang mengaku jumlah THR-nya tidak mencukupi, juga memilih langkah untuk mengambil uang tabungan. Bahkan ada 11 persen responden yang terpaksa berhutang, menggadaikan barang, ataupun melakukan pekerjaan sampingan demi kebutuhan lebaran. Ada pula 28 persen responden yang jauh-jauh hari sudah menabung khusus untuk keperluan hari raya tersebut.

Jika ditelusuri dari latar belakang ekonomi, ternyata persoalan THR yang dianggap tidak mencukupi ini juga menjadi problem bagi kelompok ekonomi yang lebih mampu. Tidak hanya responden dengan pengeluaran per bulan di bawah Rp 1,5 juta yang mengeluh, namun juga responden yang berpengeluaran lebih dari Rp 4,5 juta. Sebagian besar menyatakan jika THR yang diterimanya dari tempat kerja tak bakal bisa menutup seluruh pengeluaran lebaran.

Di satu sisi, kenaikan harga barang-barang bisa dituding menjadi penyebab ketimpangan pengeluaran itu. Namun, hal itu juga mengindikasikan semakin tinggi kelas ekonomi masyarakat, kebutuhan juga makin besar. Artinya, berapapun nilai THR yang diterima, tampaknya tidak bisa menutupi pengeluaran lebaran yang juga ikut membengkak. Jadi dari sudut pandang teori perilaku konsumen, semakin besar pendapatan dalam hal ini THR, justru jumlah konsumsi cenderung semakin besar.

 

Pesta Lebaran

Bagaimanapun, lebaran masih dipandang sebagai momen untuk melaksanakan “pesta nasional”.  Pemanfaatan uang tunjangan lebaran bagi kelompok yang habis tak bersisa, berlebih ataupun kurang, pada umumnya sama, dihabiskan untuk kegiatan konsumtif. Membeli pakaian atau sepatu baru adalah favorit separuh lebih bagian responden selain untuk untuk menyiapkan hidangan ekstra saat lebaran.

Penggunaan lainnya yang bersifat lebih fungsional proporsinya lebih kecil, seperti untuk membayar THR karyawan dan menabung. Ada juga sebagian kecil responden yang menggunakannya untuk beramal atau bahkan menabung. Ada 1,4 persen responden yang berencana bersedekah dan 2,7 persen responden menggunakannya untuk membagi semacam ‘angpao’ kepada saudara-saudara di kampung halaman.

Namun meski bakal ada pembengkakan dan kekurangan biaya disana sini, Lebaran adalah sebuah momen yang dianggap sebuah pesta yang harus dirayakan. Dan untuk pesta, semua pengeluaran sah saja dilakukan.  (M. Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

 

Grafis :

Bagaimana penggunaan THR untuk mencukupi kebutuhan lebaran :

 

2012

2013

Berlebih

3,5%

4,8 %

Cukup

76,2%

65,2%

Tidak cukup

15,9%

24,1%

Tidak tahu/tidak jawab

4,4%

5,4%

 

Jika THR tidak cukup atau tidak menerima THR, manakah sumber pendanaan paling besar untuk menutup pengeluaran lebaran kali ini?

  • Mengambil uang tabungan                                                                                                  46,9%
  • Meminjam kepada teman/saudara                                                                                     9,1%
  • Menjual/menggadaikan barang                                                                                           1,8%
  • Menabung khusus untuk pengeluaran di bulan puasa dan lebaran                      27,6%
  • lainnya                                                                                                                                                 2 %
  • Melakukan pekerjaan sampingan                                                                                         0,3 %
  • Tidak tahu/tidak jawab                                                                                                             12,3%

 

 

N = 559 – 714                                                                                      

Sumber: Litbang Kompas

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang Kompas pada 30-31 Juli 2012 dan 22-23 Juli 2013. Sebanyak  559 dan 714 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Makassar, Denpasar, Bandung, Medan, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, dan Semarang. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian + 3,5 s/d ± 3,7 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ratusan Cerita dari Tarif Progresif KRL

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Belum genap seminggu penerapan tarif progresif kereta komuter, sudah beratus-ratus cerita yang mengiringinya. Ada cerita gembira – sedih – lucu – menjengkelkan yang terus keluar dari mulut para pengguna KRL. Bagaimana tidak, gerbong kereta mendadak langsung penuh. ‘Wajah-wajah’ baru dan perilakunya muncul. Plus terakhir, kehebohan penggunaan kartu ekeltronik yang bikin bingung dan repot.

 

Penurunan harga tiket sampai 75 persen pada 1 Juli lalu, memang membawa pengaruh besar pada melonjaknya jumlah penumpang KRL. Tanpa harus melihat data, lonjakan penumpang dapat dilihat pada penuh sesaknya gerbong-gerbong KRL pada setiap jadwal keberangkatan. Jika dulu, gerbong kereta penuh sesak pada jadwal pagi saat masyarakat hendak berangkat kerja- sekolah-beraktivitas lain serta pada sore/malam hari ketika jam pulang kantor. Sekarang hampir setiap jadwal keberangkatan, gerbong penumpang selalu penuh. Bahkan terkadang, jadwal sekitar pukul 11.00 – 12.00 siang sama penuhnya dengan jadwal pagi dan sore hari. Orang seperti berlomba-lomba naik KRL.

 

Dari beberapa catatan stasiun kereta api, lonjakan jumlah penumpang sampai 25-50 persen. Data dari stasiun Sudimara menyebutkan, sebelum 1 Juli, jumlah penumpang rata-rata hanya sekitar 9.500 orang. Sekarang, meningkat pesat menjadi 14.000 Juga pada stasiun Bojong Gede di jalur Bogor-Jakarta yang terkenal merupakan jalur padat. Jumlah penumpangnya naik  26  persen.

 

Sekilas, meningkatnya jumlah kereta membawa indikasi positif bahwa angkutan umum massal sekarang sudah diminati oleh masyarakat. Indikasi ini ke depan memang menguntungkan untuk mengurangi kemacetan di Jabodetabek karena penggunaan kendaraan pribadi akan berkurang dan beralih ke kereta KRL.

Namun, lonjakan jumlah penumpang ini harus dijaga supaya berkesinambungan dan tidak bersifat eforia masyarakat saja. Pasalnya, sesaknya gerbong penumpang selama lima hari ini sudah dikeluhkan oleh para penumpangnya. Penumpang merasa tidak nyaman dengan gerbong yang selalu penuh di setiap jadwal keberangkatan. “Kalau dulu, meski penuh, masih selalu ada celah untuk masuk dalam gerbong. Tapi sekarang, masuk gerbong saja sulit dan pintu tak bisa ditutup” kata Arko (34) karyawan swasta yang berkantor di kawasan Slipi. Keluhan lainnya, penumpang sudah sulit untuk menapakkan dua kaki di dalam gerbong saking penuhnya. Jangan sampai keluhan-keluhan penumpang ini berujung pada beralihnya pengguna KRL ke kendaraan pribadi.

 

Tapi apakah benar, naiknya jumlah penumpang ini berasal dari pengguna kendaraan pribadi? Bisa saja, lonjakan penumpang ini pindahan dari penumpang kereta ekonomi yang sudah mulai dikurangi jumlah perjalanannya. Atau bisa juga pindahan dari pengguna angkutan umum lain seperti bus dan angkot.

 

Jika dugaan ini benar, masalah kemacetan belum teratasi dan malah menimbulkan masalah baru yaitu menurunnya kualitas pelayanan KRL. Dan lagi-lagi berujung pada meningkatnya jumlah pengguna kendaraan pribadi dari kawasan pinggiran Jakarta karena penumpang yang merasa tidak nyaman dengan pelayanan KRL akan beralih lagi pada kendaraan pribadinya.

 

Perilaku Penumpang

Ketidak-nyamanan ini tidak hanya berasal dari gerbong yang penuh. Namun bertemunya dua kelas sosial yang berbeda dalam satu gerbong kereta AC bisa sebagai awal ketidak-nyamanan dan menimbulkan banyak cerita.

Menurunnya tarif kereta api seharga Rp 2.000 untuk lima stasiun dan dihapusnya jadwal kereta ekonomi membuat masyarakat yang biasanya menumpang kereta ekonomi beralih pada kereta AC. Mereka cukup diuntungkan dengan harga Rp 2.000 sudah bisa merasakan nikmatnya kereta yang dingin.

 

Sayang, ‘kepindahan’ eks penumpang kereta ekonomi ke kereta AC tidak serta merta langsung meniru perilaku penumpang kereta AC. Perilaku penumpang kereta ekonomi yang lebih terbuka, suka dengan keramaian, sering makan dan minum di kereta, cenderung tidak tertib, serta ramah, berlawanan dengan

Perilaku penumpang kereta AC. Penumpang kereta AC, cenderung untuk diam, sibuk dengan gadgetnya masing-masing, tidak ramah, serta tertib.

 

Pertemuan dua perilaku yang berbeda ini menimbulkan sedikit ‘gesekan’ diantara penumpang. Penumpang asli KRL AC yang cenderung tertib berulang kali harus protes dan mengelus dada melihat perilaku penumpang ekonomi. Terkadang, ada penumpang yang duduk bergerombol di lantai kereta-menutupi lalu lintas antar gerbong – Bahkan sambil makan dan minum. Tidak berhenti sampai disitu, mereka juga menciptakan keriuhan sendiri, tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.

 

Sebenarnya bukan faktor keramaian yang sering diprotes penumpang asli kereta AC, tapi lebih pada perilaku tidak disiplin seperti makan dan minum di kereta, membuang sampah sembarangan, serta duduk di lantai yang mengurangi ruang gerak berdiri penumpang lain.

 

Perilaku sosial ini tampaknya tidak sepenuhnya diantisipasi oleh PT KAI. Mereka lebih memikirkan faktor teknis saja supaya penumpang KRL meningkat dengan peralihan pengguna kendaraan pribadi ke kereta api. Bisa saja mereka tidak mengira kalau terjadi bentrokan perilaku sosial.

 

Namun, jika tidak segera ada penanganan, ketidak-nyaman tersebut menjadi buah simalakama. Jumlah penumpang kereta komuter yang sudah melonjak drastic seminggu ini akan berbalik menurun drastic.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Angkutan Pengumpan : Antara Peluang, Harapan dan Kenyataan

Oleh : Susanti Agustina S dan M. Puteri Rosalina

 Angkutan pengumpan bisa berpengaruh pada perkembangan angkutan umum massal. Moda ini menarik minat calon penumpang untuk menggunakan moda umum. Harapan masyarakat, angkot dan bus berbiaya terjangkau bisa menjadi moda pengumpan menuju halte/stasiun. Sayang, peluang belum bisa ditangkap dan harapan belum bisa terwujud.

 Angkutan pengumpan merupakan angkutan orang yang mendukung angkutan massal. Moda ini akan mengantar masyarakat dari rumah menuju stasiun atau halte terdekat. Juga menjemput dari stasiun/halte menuju tempat aktivitas. Moda ini bisa berupa moda umum atau pribadi. Karena tugasnya ‘mengantar dan menjemput’, menjadi salah satu penentu calon penumpang menggunakan busway dan kereta api. Jika moda pengumpan yang didominasi angkutan umum tidak berkualitas baik, lambat laun masyarakat akan menggantinya dengan moda pribadi. Selanjutnya, jika angkutan massal kualitasnya kian turun, moda pribadilah yang menjadi moda utama.

 Terbukti, kendaraan pribadi masih menjadi moda andalan. Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menyebutkan, 49 persen responden masih menggunakan sepeda motor dan 19,8 persen menggunakan mobil sebagai angkutan utama untuk bermobilitas di Jakarta. Pengguna angkutan umum hanya berkisar 24 persen.

 Potensi moda pengumpan tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Pemprov Jakarta sejak dulu. Pengadaan moda pengumpan yang dikelola secara khusus mulai ada berbarengan dengan lahirnya busway (2004). Namun, feeder busway tersebut tidak dikelola dengan baik. Moda yang mempunyai tiga rute (Sentra Primer Barat, Salemba UI – Tanah Abang, dan SCBD – Senayan) tersebut tidak laku karena dinilai rutenya tidak tepat sasaran dan jadwalnya kacau. Operator bus merugi karena jumlah penumpang terus menurun sehingga tidak mampu menutup biaya operasional. Ujungnya, feeder busway tersebut berhenti beroperasi di 2012.

 Sebagai gantinya, sejak Maret 2012, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan pengumpan bagi angkutan massal umum busway. Pengumpan tersebut berupa Angkutan Perbatasan Terintegasi Bus (APTB) yang menghubungkan masyarakat di kawasan pinggiran dengan  Jakarta dan Kopaja AC yang beroperasi di tengah kota Jakarta.

 APTB  memiliki tujuh rute yakni Ciputat – Kota, Poris Plawad-Taman Anggrek, Bekasi-Pulogadung, Cibinong-Grogol, Bogor-Rawamangun, Bekasi-Tanah Abang, dan Bekasi-Bundaran Hotel Indonesia (HI). Semua rute APTB beroperasi pukul 05.00 – 23.00.

 Pemerintah juga mengoperasikan Kopaja AC P20 jurusan Lebak Bulus-Senen dan Kopaja AC S602 jurusan Ragunan-Monas sebagai feeder dalam kota Jakarta yang terintegrasi dengan jalur busway. Tarif yang dibebankan kepada penumpang Kopaja AC yakni Rp 5.000 per penumpang.

 Namun, setelah setahun beroperasi, keberadaan Kopaja AC dan APTB belum berpengaruh langsung untuk meningkatkan daya tarik pengguna busway. Jumlah pengguna Transjakarta pada koridor yang tersambung dengan Kopaja AC dan APTB, sejak Maret 2012  tidak meningkat secara signifikan.  Dari 12 koridor, hanya koridor 1 yang menunjukkan peningkatan. April 2012, jumlah penumpang busway di koridor 1, 1,9 juta orang. Sementara April 2013 meningkat 9,5 persen menjadi 2,1 juta penumpang.

 Hal tersebut menunjukkan keberadaan angkutan pengumpan yang berpotensial tersebut belum efektif kinerjanya. Bisa jadi karena kurang sosialisasi, sehingga masyarakat tidak mengetahui keberadaan dua moda pengumpan tersebut.  Faktor kemungkinan lainnya, tarif APTB dan Kopaja AC yang berkisar Rp 8.000 hingga Rp 12.000 tersebut masih dinilai mahal. Sebagai contoh tarif APTB dari Bekasi – Tanah Abang yang dipatok Rp 8.000 dinilai lebih mahal dibandingkan tarif bus regular dengan rute yang sama yang hanya Rp 6.500.

 Meski lebih mahal, sebenarnya feeder busway berupa APTB dan Kopaja AC lebih praktis. Dengan membayar Rp 8.000, penumpang sudah terintegrasi dengan koridor busway (langsung turun di halte) dan tidak perlu membeli tiket lagi. Bandingkan dengan ketika naik angkutan reguler Rp 6.000, penumpang masih harus naik jembatan penyeberangan menuju halte busway. Memang lebih murah tapi tidak praktis.

 Meski terlihat belum terlalu diminati, tapi pengguna pengumpan busway berpotensi akan meningkat karena mayoritas responden menilai positif keberadaan feeder busway. Sebanyak 78 persen responden menganggap keberadaan pengumpan busway cukup efektif. Selain itu, hampir 60 persen responden menilai kualitas feeder busway semakin baik. Tarifnya pun sudah dianggap pas oleh lebih dari tiga perempat responden yang menjadi pengguna. Apabila jadwal lebih jelas, feeder menggunakan bus besar, keamanan dan kenyamanan lebih terjaga, serta pengemudi berkendara dengan baik, pengguna APTB dan Kopaja AC di masing-masing rute berpotensi meningkat.

 Pengumpan Kereta Api

Berbeda dengan busway, pengumpan moda kereta api belum dikelola khusus. Selama ini kelompok responden pengguna kereta api yang menggunakan pengumpan berupa angkot (75 persen responden), sepeda motor (16,7 persen), dan sisanya menggunakan mobil pribadi dan ojek.

 Di sisi lain, kereta api mulai diminati oleh masyarakat hinterland Jakarta. Hingga akhir 2012, penumpangnya mencapai 134 juta orang, meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah penumpang ini, bisa jadi karena akses jalan wilayah pinggiran – Jakarta keadaannya macet sehingga masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kereta api. Selain itu, PT KAI, mulai memperbaiki kualitas dan kuantitas kereta api, seperti revitalisasi gerbong, perubahan jadwal, dan penyediaan fasilitas park and ride.

 Selain ketidak-nyamanan, biaya angkutan pengumpan yang lebih tinggi dibandingkan angkutan utamanya juga sering menjadi keluhan. Responden jajak pendapat Kompas menyebutkan biaya maksimal moda pengumpan mencapai Rp 80.000. Bahkan ongkos untuk membayar angkutan pengumpan bisa mencapai lebih dari 67 persen dari biaya transportasi sehari. Sebagai gambaran, seorang penumpang kereta api bisa menghabiskan Rp 15.000 hanya untuk membayar ongkos ojek dari stasiun menuju tempat kerja/aktivitasnya. Padahal tiket kereta api hanya separuhnya (Rp 8.000).

 Harapan

Biaya yang tinggi serta ketidak-nyamanan moda pengumpan yang belum dikelola dengan baik menjadi titik perhatian utama bagi penyediaan angkutan pengumpan. Biaya yang diinginkan untuk ongkos sekali naik angkutan pengumpan berkisar Rp 3.000 – 5.000. Wajar saja, dengan ongkos maksimal Rp 5.000 sekali naik, nilainya masih berimbang dibandingkan moda utamanya seperti busway (Rp 3.500) dan kereta api (Rp 8.000).

 Hampir 40 persen responden menghendaki angkot bisa membantu akses menuju dan dari stasiun/halte. Sekitar 24-36 persen responden menginginkan bus sebagai pengumpan. Dan sisanya sekitar 15 persen berharap masih bisa mengandalkan kendaraan pribadi.

 Dari harapan tersebut terlihat, bagian terbesar responden masih mendamba angkutan umum bisa berperan sebagai angkutan pengumpan. Tentu saja, angkutan umum tersebut harus dibawah manajemen yang teratur. Tak perlu armada baru, tapi armada yang nyaman, layak pakai, biaya murah, perilaku sopir yang sopan, rute yang jelas, serta jadwal yang teratur. Selama ini, angkot dan bus memang sudah menjadi pengumpan busway dan kereta api. Hanya saja, pemerintah belum menyediakan sarana-prasarana memadai.

 Jika kuantitas dan kualitas angkutan umum baik, lambat laun akan terus digunakan oleh masyarakat. Selanjutnya penggunaan kendaraan pribadi bisa berkurang. Dalam kondisi ideal, angkutan pengumpan bisa turut andil untuk menarik masyarakat menggunakan kendaraan umum massal. Siapapun pasti akan memilih naik kereta api atau busway menuju dan keluar dari halte/stasiun jika sudah tersedia angkutan pengumpan yang murah, nyaman, dan terjadwal. (Litbang Kompas)

 Grafis :
Moda Pengumpan yang Diharapkan Menuju/dari halte bus Transjakarta

Angkot

35,2 %

Bus

29,9 %

Sepeda Motor

15,5 %

Ojek

4,9 %

Bajaj

1,9%

Bus Khusus

1,8%

Lainnya (monorel, taksi MRT, delman)

1 %

 Moda Pengumpan yang Diharapkan Menuju/dari Stasiun KA

Angkot  

39,8%

Bus         

23,5%

Sepeda motor                      

14,7%

Mobil pribadi

5,5%

Ojek

4,1%

Bajaj                                       

2,6%

Bus Khusus

1,7%

Busway

0,3%

MRT

0,2%

 Ongkos Maksimum yang Diharapkan untuk sekali naik Angkutan Pengumpan

Kurang dari Rp 3.000

41,1 %

Rp 3.000 – 4.000

9%

Rp 4.000 – 5.000

32,3 %

Lebih dari Rp 5.000

17,6 %

Biaya moda pengumpan dibandingkan Biaya Transportasi Sehari

Kurang dari 23 persen

8,5 %

23 – 67 persen    

10,2%

Lebih dari 67 persen

25,9%

               

Metode jajak pendapat

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang Kompas pada 15-16 Juni 2013. Sebanyak 586 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian ± 3,9 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

 

Sumber: Litbang Kompas

Posted in Uncategorized | Leave a comment