Not Good Enough for You

Dua kali aku mendengar kalimat “Is not good enough for you” hari ini. Mendadak aku bertanya-tanya apa makna kalimat ini. Apakah sekadar tidak cocok? Kurang pas? Terlalu jelek? Atau Terlalu bagus? Tapi siapakah yang bisa menilai itu? Aku? Orang lain? Atau Tuhan?

Berawal dari percakapan singkat dengan seorang teman. “Dia baik, ramah, pintar, tulus. But it’s good enough for you….karena……bla…bla…. (sensor). RUpanya kalimat tujuh tahun yang lalu, muncul kembali hari ini.

Aku masih ingat pesan lama itu dan terus tertanam dalam hatiku. Aku mulai berpikir. Kenapa tidak cocok denganku menurut orang lain? Entah kenapa aku masih menuruti saran itu. Tapi memang lambat laun, aku melihat ada yang sesuatu yang tak cocok antara aku dan dia. Meski dia sudah membuatku kembali membuka hati, tapi tidak pantas untuk diperjuangkan lebih lanjut.

Namun, tiba-tiba ada perkataan revisi. “It’s not  good enough for you tidak mutlak ya”. Iya sih, tak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Aku hanya bisa terus berharap, ada yang “good enough” for me…Entah dia, orang lain, atau orang lainnya lagi. Tuhan punya rencana lain untuk memilihkannya.

 

Kedua, seorang teman berhasil menjalin ikatan pertemanan. Namun, beberapa teman-temannya mengatakan, “yang cewek is good enough untuk yang cowok”. Seperti ada ketidakrelaan dari orang lain. Meski orang lain menganggap gak cocok, tapi mereka telah cocok. Bisa jadi Tuhan berkenan, atau Tuhan punya rencana lain. Cocok Cuma sebentar …kemudian pergi..atau cocok untuk selamanya.

Terkadang susah untuk tidak menghakimi hubungan orang lain, tidak ikut campur. Tapi bisa jadi mereka yang menghakimi dan ikut campur karena terlalu peduli dan sayang dengan kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jackpot from God

IMG_20170619_213200_338

Image | Posted on by | Leave a comment

Almost 40 and started to long journey

IMG_20170619_004746_646.jpg

Image | Posted on by | Leave a comment

DIA

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu

Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta

Hati ini kembali temukan senyum yang hilang

SEmua itu karena dia

 

Oh Tuhanku ku cinta dia

Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia

Utuhkanlah rasa cintaku di hatiku

Hanya padanya, untuk dia

 

Jauh waktu berjalan kita lalui bersama

Betapa di setiap hari ku jatuh cinta padanya

Dicintai oleh dia ku merasa sempurna

Semua itu karena dia….

 

(By ANJI)

 

Ingin rasanya melantunkan lagu ini sekencang mungkin suatu hari nanti. Saat aku benar-benar bertemu Dia…. Laki-laki yang akan menjadi suamiku.

 

Tapi….

 

Rasanya hampir pesimis bisa menyanyikan lagu ini pada pria yang tepat.

Seumur hidupku, aku selalu keliru dan salah mendendangkan lagu ini pada beberapa pria. Baru beberapa lirik lagu, dia sudah pergi dan tidak pernah kembali lagi, bahkan menatapku.

 

Apa yang salah dengan diriku?

 

Suatu waktu, ada seorang pria yang menawarkan kasih…. Kasih persahabatan, bukan kasih pacaran ikatan antara pria dan wanita. Ragu-ragu menerimanya… tapi entah mengapa Tuhan menggerakkanku untuk menerima kasihnya. Dan aku ingin membuktikan bahwa antara pria dan wanita bisa bersahabat murni.

 

Persahabatan masa kuliah bisa kita jalani. Meski kemana-mana berdua tapi teman2 sekelas mengetahui bahwa kami bersahabat. Yah seperti umumnya persahabatan, kadang ada pertengkaran. Tapi aku bisa melewatinya..yah karena aku mengalah.  Sampai akhirnya timbul rasa ketergantungan diantara kami…Tapi toh…kami bisa tetap bersahabat tanpa ada bibit-bibit cinta kasih.

 

Akhirnya, persahabatan kami harus berakhir. Menyedihkan…. Bahkan lebih menyedihkan dibandingkan patah hati atau saat diputus pacar. Dia…sahabatku memilih meninggalkanku karena sudah tak pantas ‘mendampingi’ku… Dia merasa sudah terlalu ‘kotor’…Entah apa maksudnya…

 

Dan…. Putuslah kami….

Sekarang..meski terkadang mengobrol di social media, aku dan dia tak pernah lagi bertemu untuk sekadar mengobrol dan melepas kangen…Entah kenapa aku takut menghubungi dia kembali.

 

Waktu berjalan…

Suatu waktu, ada lagi seorang pria yang mulai menggoda-nggoda menawariku kasih. Itu terjadi setelah aku ‘gagal’ tiga kali menyanyikan lagu DIA.

Awalnya aku gak ‘ngeh’ kalau si pria bugis itu menggoda… Polos sekali aku melakoninya. Padahal orang-orang di sekelilingku sudah mengira kami pacaran…

 

Lambat laun aku mengerti… hampir saja aku meneriakkan lagu Dia kencang-kencang. Untung aku ingat,…gak mungkin..gak mungkin…. Dia berbeda agama dan suku….

Dan satu lagi..DIA ini tak layak diperjuangkan….Dia yang hanya memanfaatkanku saat kuliah.

 

Setelah itu, aku cukup berhati-hati menyenandungkan lagu ini.

Entah kapan yaa…bisa bernyanyi keras di resepsi pernikahanku

Make a wish….

Dia yang membuatku tersenyum lagi

Dia yang membuatku sempurna

Dia yang menerimaku apa adanya seperti aku menerima dia apa adanya juga.

 

 

H-14 before my date

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tour 3 Taman Jakarta

Awalnya cuma ide iseng mengunjungi RPTRA Kalijodo. Tapi siang itu, gak sengaja malah jadi tour kecil ke 3 taman di Jakut dan Jaksel.
Meski semua kunjungan dilakukan dengan angkutan umum, tapi dalam waktu 7 jam, empat tempat termasuk tempat makan siang terlampaui. Biaya trasportasinya pun gak sampai Rp 100 ribu. Perpindahan antar angkutan umum pun cukup nyaman. Juga dengan angkutan umum, cukup nyaman untuk sesaat tidur siang.

RPTRA Kalijodo
Berangkat dari Stasiun Rawa Buntu Pukul 9.00, turun di Stasiun Palmerah. Dilanjutkan dg naik angkutan online menuju Kalijodo.
RPTRA Kalijodo relatif masih panas. Jika kunjungan dilakukan siang hari, cukup terik. Namun siang itu, banyak pengunjung ingin menikmati RPTRA yang diresmikan 22 Februari yang lalu.
Fasilitas, playground, lapangan futsal, skatepark, tempat berteduh, kamar mandi, tempat PKL, serta parkir kendaraan.
Perjalanan dilanjutkan ke tempat makan siang di kawasan kota, menggunakan Bus pariwisata gratis dan turun di halte Tosari. Kemudian dilanjutkan dg Bus Transjakarta menuju kota.
Sedikit terjadi kesalahan teknis, membuat kami turun di halte Mangga Besar dan berganti angkot M08.

Setelah makan, terbersit ide untuk mengunjungi RPTRA lain di kawasan Jaksel. Dari sisi jarak cukup jauh dari kawasan kota ke Tebet, tapi setelah melihat google map, pilihan jatuh menggunakan moda KRL jurusan Jakarta Kota-Bogor dari Stasiun Kota .
Perjalanan berhenti di Tebet untuk singgah di RPTRA AKasia Tebet Barat Dalam.
Jarak dari Stasiun Tebet ke lokasi itu cukup jauh, dan akhirnya memutuskan untuk naik bajaj biru.

RPTRA Akasia
RPTRA ini CSR dari Tanoto Foundation. Tidak terlalu luas, tapi tersedia berbagai fasilitas seperti playground, lapangan futsal, lahan tanaman TOGA, dan bangunan kegiatan RPTRA.
Awalya cukup ragu dengan kegiatan RPTRA yang diresmikan Ahok 31 Oktober lalu. Tapi setelah ngobrol dengan pengurus RPTRA, kegiatannya cukup banyak dan bervariasi. Dari perpustakaan, PKK Mart yang menampung UKM warga sekitar, kursus mewarnai, bahasa inggris, serta menari, mengaji, bahkan beberapa kali menerima kunjungan dari TK di sekitar Tebet.

Perjalanan dilanjutkan ke Taman Honda Tebet yang jaraknya 600 meter dengan berjalan kaki.

Taman Honda Tebet
Taman yang cukup besar. Dialiri sungai kecil di tengahnya. Sore itu, taman cukup ramai dikunjungi warga dari berbagai usia dan kelas sosial.
Tampak berbagai komunitas berkumpul disitu seperti pesepeda dan Jakarta Backpacker. Anak2 bermain inlin skate dan berlari2an di taman. Beberapa pasangan tampak bercengkerama di pojok2 taman.
Sayang di ujung taman dekat dengan lapangan sepak bola bau sampah karena ada tumpukan sampah yang tidak terangkat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Harus segera kembali ke Serpong.
Perjalanan dilanjutkan dg naik mikrolet M34. Awalnya kami mengira angkot itu menuju Stasiun Cawang, tapi ternyata menuju Stasiun Kalibata.
Setelah sampai di Pancoran, kami memilih moda bus transjakarta yang akan membawa kami ke arah Slipi.
Dari Slipi, kami memilih berjalan kaki menuju ke Stasiun Palmerah.
Perjalanan berakhir pukul 18.00.
Capai tapi puas sudah melintasi utara dan selatan Jakarta dengan kendaraan umum

Biaya Transportasi :
KRL Rawa Buntu-Palmerah : 3000
Angkutan online : 35.000 plus bayar tol
Bus TJ Tosari-Sawa Besar : 3500
Angkot M08 : 3000
Angkot M08 menuju stasiun kota : 3000
KRL Kota- Tebet : 3500
Bajaj Stasiun Tebet – RPTRA Akasia : 15000
Angkot M34 menuju halte pancoran : 4000
Bus TJ menuju Slipi : 3.500
KRL Palmerah : Rawa Buntu : 3000

TOTAL : Rp 76.500

Tampaknya bisa dicoba untuk kunjungan ke taman lain di Jakarta

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KRL MALAM

Sudah pukul 22.00 lebih.

Wajah-wajah penumpang KRL tampak lelah, lesu dan mengantuk

Saat sudah mendapat tempat duduk, ada yang langsung menyandarkan kepala di kursi dan tertidur. Bahkan ada yang sampai lupa turun di stasiun tujuan karena mengira sudah tidur di kasur.

Ada juga yang menunduk sambil memainkan HP. Entah chatting, main game atau menonton film

Ada juga yang tekun membaca buku. Kalau yang ini pemandangan cukup langka.

Sebentar lagi sampai Rawa Buntu . Kantuk tak tertahan dan ingin segera menghempaskan badan ke kasur.

 

Dan… saking asyiknya menulis cerpen ini, hampir saja Rawa Buntu terlewati. Bergegas melompat dari tempat duduk dan berjalan cepat ke pintu kereta. Nah…tepat…3 detik setelah saya turun, pintu tertutup.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PLANOLOGI dan DUNIA MEDIA

Bekerja di  media tidak ada dalam kamus mimpi anak-anak plano saat itu. Termasuk aku yang masuk pada tahun ke-5 Planologi UNDIP terbentuk. Namun, dorongan untuk mencoba hal baru, membuatku bekerja di sebuah media nasional sampai sekarang. Berbekal ilmu planologi dengan daya lenting yang tinggi dengan mudah bisa menyesuaiakan dengan situasi kondisi pekerjaan media

Sama seperti teman-teman seangkatan, gambaran pekerjaan setelah lulus kuliah hanyalah sebagai PNS atau bekerja di Konsultan Perencanaan. Namun karena bertekad untuk tidak menjadi PNS, pilihan lain adalah bekerja di konsultan dan mencoba bidang lain.

Jadilah setiap hari tekun membuka iklan lowongan kerja, melihat tulisan “Dibutuhkan Sarjana Planologi”. Sayang, tak satupun iklan lowongan yang memuat kata tersebut. Bahkan Bank Indonesia yang membutuhkan segala jenis lulusan tidak membutuhkan sarjana planologi. Meski demikian, masih berupaya memasukkan lamaran ke Bank Indonesia, sampai akhirnya harus menyerah karena lamaran ditolak pada tahap awal proses seleksi administrasi.

Aku sempat putus asa mengenai nasib ke depan. Harus bekerja dimana jika ingin menghindari pekerjaan Pegawai Negeri Sipil? Sampai suatu pagi, seorang sahabat menunjukkan iklan lamaran pekerjaan Harian Kompas. Saat itu, Harian Kompas membutuhkan seorang “Peneliti” dengan syarat lulusan sarjana Komunikasi, Psikologi, Statistik, dan Ekonomi. Ragu juga untuk mencoba setelah ‘ditolak’ Bank Indonesia. Namun, sahabat tersebut terus meyakinkan untuk mencoba. “Iseng-iseng berhadiah”, katanya dengan penuh semangat.

Akhirnya aku ikuti saran dia dan tetap tidak berharap banyak. Sebelumnya, aku juga telah memasukkan surat lamaran pekerjaan di Harian Kompas sebagai wartawan karena syarat yang dibutuhkan adalah sarjana lintas jurusan. Jadi surat lamaran ini adalah yang kedua.

Kira-kira berjarak tiga minggu dari saat surat lamaran menjadi “Peneliti” dimasukkan, pihak Kompas menelpon, meminta datang ke Jakarta untuk ikut dalam tes Psikotest sebagai peneliti. Telepon panggilan tersebut cukup mengejutkan juga karena tidak menyangka bisa lolos dalam tahap seleksi administrasi. Ternyata iseng-iseng berhadiahnya mulai terbukti.

Lima jenis test masuk mulai kujalani selama hampir enam bulan. Dari psikotest , wawancara psikologi, tes bahasa, tes bidang, sampai wawancara akhir dijalani perlahan. Bahkan sempat terdepak saat tes wawancara psikologi. Namun, dewi fortuna masih menaungiku. Sistem perekrutan mendadak diubah karena banyak pelamar yang gagal dalam tes bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadilah aku yang sempat terdepak dari sistem masuk kembali dalam sistem perekrutan.

Tes bidang menjadi pembuktian ketrampilan menulis ‘panjang dan lebar’ khas Planologi. Kami, peserta tes diminta untuk membuat profil kota/kabupaten menggunakan sejumlah buku statistik BPS. Bagiku, tidak terlalu sulit untuk menulis profil kota/kabupaten karena saat kuliah beberapa kali membuat gambaran umum wilayah saat mengerjakan laporan Rencana Tata Ruang. Jadilah profil kota administrasi yang memenuhi dua lembar kertas folio bergaris.

Tes bidang ini yang membuatku percaya diri untuk melangkah dan bisa diterima bekerja. Ternyata benar, sebulan menunggu, datang pemberitahuan untuk mengikuti tahapan test selanjutnya, yakni tes wawancara.

Tes wawancara ini semakin membuatku percaya diri bahwa ilmu planologi juga dibutuhkan dalam dunia media. Agaknya pihak Kompas mulai melirik bidang planologi setelah mengeluarkan tulisan serial mengenai “Profil Otonomi Daerah seluruh kabupaten/kota di Indonesia”.

Lagi-lagi hasil penelitian mengenai skripsi banjir Semarang, cukup menyita perhatian pewawancara . Sekali lagi mulai percaya diri bahwa ilmu planologi berguna juga dalam dunia pekerjaan di luar PNS dan konsultan perencanaan.

Pencarian Data dan Survei

Bekerja sebagai peneliti media dituntut untuk bisa melakukan dua bidang pekerjaan sekaligus. Sebagai peneliti yang melakukan survei-menyebar kuesioner – mengolah – menuliskan hasil dengan bahasa populer dan singkat. Sisi lainnya melakukan supporting kepada redaksi dengan memberikan data-data sekunder tambahan dan infografis pendukung berita. Selain melalui survei, data-data pendukung juga didapatkan dari sejumlah instansi seperti BPS dan instansi-instansi pemerintah lainnya.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut juga menjadi tugas sehari-hari saat kuliah di Planologi. Survei misalnya. Dari tahapan membuat konsep, kuesioner, sampling, penyebaran kepada responden, pengolahan, sampai penulisan hasil menjadi salah satu pekerjaan pada beberapa Studio Perencanaan. Juga dengan pekerjaan teknis persiapan survei yang secara tidak langsung juga diajarkan.

Pekerjaan mencari data di sejumlah instansi juga pernah dilakukan saat kuliah. Data-data sekunder biadanya dibutuhkan sebagai bahan untuk membuat konsep perencanaan, materi tugas kuliah lainnya, serta untuk bahan pendukung skripsi. Pencarian data bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan dan ketrampilan ‘lobi-lobi’ untuk bisa mudah dan cepat mendapatkan data. Meski tidak diajarkan secara khusus oleh dosen, tapi diantara kami saling belajar untuk menjalani proses tersebut.

Pengolahan data statistik dengan alat SPSS juga pernah diperkenalkan saat kuliah. Saat bekerja, pengoperasian SPSS menjadi modal utama untuk mengolah hasil penelitian. Meskipun sempat lupa tapi setelah mengikuti beberapa pelatihan dari kantor, ketrampilan tersebut mudah diingat.

Pembuatan infografis. Pekerjaan ini menjadi hal baru. Namun, sebagai lulusan Planologi sudah mempunyai modal untuk menyajikan data-data sekunder menjadi sebuah infografis. Bantuan mesin pencari Google yang semakin canggih semakin mempermudah pembuatannya.

Grafis saat kuliah, biasanya sebagai pelengkap konsep rencana tata ruang, berupa grafik garis, grafik batang, tabel, atau peta. Grafis di Koran, lebih dikenal dengan sebutan infografis. Infografis ini lebih bervariasi bentuknya, tidak hanya grafik, tabel atau peta. Tapi juga data kronologi suatu peristiwa yang didapatkan dari penelusuran pemberitaan Koran, memberi penjelasan mengenai suatu konsep/definisi, olahan produk hukum, hasil perhitungan data sekunder, bagan, dan lain-lain yang intinya harus bisa memudahkan pembaca untuk mengerti dengan cepat sebelum membaca artikel di sebelahnya. Infografis ini akan semakin menarik dengan tambahan beberapa ilustrasi gambar/foto yang diolah oleh bagian grafis.

Selain hal-hal tersebut diatas, hal utama yang harus dilakukan sebagai pekerja media adalah menulis. Menulis ini juga modal utama lain dari lulusan Planologi.

 Tulisan Panjang-Lebar

                Menulis panjang-lebar selalu menjadi bahan olok-olokkan kami saat kuliah dulu. Lulus dari Planologi, apa yang didapat sih? Jawabannya adalah ketrampilan menulis panjang lebar sampai menghabisan berlembar-lembar kertas. Sampai timbul rumor bahwa hasil ujian akan mendapat bagus jika menghabiskan berlembar-lembar kertas. Tentu saja ini hanya sekadar bahan becandaan kami.

Awalnya kupikir ini hanya bahan bercandaan saja. Namun, setelah mulai memasuki dunia kerja di media, mulai merasakan manfaatnya. Terbiasa untuk berpikir cepat untuk membuat konsep perencanaan berlaku juga di media, walau bukan berprofesi sebagai wartawan.

Menulis deskripsi dan naratif menjadi bagian dari penulisan Rencana Tata Ruang dan sejumlah paper mata kuliah lainnya. Hasilnya sudah dipastikan cukup panjang dan bertele-tele.

Setelah bekerja di media, menulis panjang-lebar dan bertele-tele harus diubah. Awalnya cukup sulit bagiku untuk menulis pendek dan langsung pada tujuan. Berkali-kali mencoba, hasilnya masih tetap berlembar-lembar tanpa jelas maksud tulisan.

Namun, pelatihan yang diberikan oleh kantor ditambah dengan rutinitas membaca Koran berhasil mengubah gaya penulisan dari panjang-lebar menjadi tulisan dengan bahasa populer, singkat dan informatif.

Selain mengubah gaya penulisan, ‘bahan-bahan mentah’ yang dibutuhkan untuk menulis di koran bukan hanya sekadar data sekunder. Bahan baku tulisan yang dibutuhkan selain data sekunder, juga data primer baik berupa hasil penelitian (jajak pendapat), hasil wawancara narasumber serta masyarakat. Kesemuanya harus diramu menjadi tulisan yang menarik, informatif, serta tidak membuat bingung pembaca. Jumlah halaman pun dibatasi maksimal 7.500 karakter atau sekitar 2 halaman.

Satu hal lagi yang penting dari tulisan di media, harus bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Jangan asal menuliskan segala macam konsep yang ada. Selamat tinggal tulisan ‘panjang dan lebar’.

Kerangka Pikir

Hal berharga lainnya dari ilmu perencanaan adalah pola pikir yang runut dari input, proses, sampai output yang didapatkan. Pola pikir tersebut didapatkan dari kebiasaan membuat kerangka pikir sebagai langkah awal proses penelitian dan membuat perencanaan.

Awalnya cukup sulit untuk membuat kerangka pikir ini. Namun, saat itu pak Holly mengajarkan cara yang mudah untuk mengingatnya, yaitu dengan masakan. Katanya waktu itu,”Kalau mau bikin roti bahan-bahannya apa saja, itu dimasukkan dalam tahapan input. Memanggang roti dan sebagainya dimasukkan sebagai ‘proses’, dan roti hasil yang jadi sebagai ‘output’. Sampai sekarang masih terkenang dengan istilah ‘Kerpik kompre’ (kerangka pikir komprehensif) yang saat kuliah sering menjadi bahan bercandaan kami angkatan 96.

Pemikiran yang sederhana tersebut dipraktekkan dalam membuat kerangka pikir. Seperti misalnya untuk membuat Rencana Tata Ruang Wilayah suatu kota, harus diketahui kondisi fisik alam, tata guna lahan, kependudukan, ekonomi, sarana prasarana, dan transportasi. Untuk mengetahui kondisi dasar suatu kota dibutuhakan analisis mendasar dengan memanfaatakan bahan inputan misalnya dari kondisi topografi dan geologi, peta tata guna lahan eksisting, data sosial kependudukan, data ekonomi dan sebagainya.

Pola pikir yang bertahap dan teratur ini sangat berguna ketika menjadi peneliti di media. Tulisan yang dihasilkan bisa mengalir dan menjelaskan satu persatu dengan bertahap. Cuma bedanya, kesimpulan dari  suatu hasil penelitian atau hasil wawancara diletakkan pada bagian atas sebagai alinea pembuka yang dalam dunia media dikenal sebagai ‘lead’. Lead ini sebagai modal awal tulisan untuk bisa menarik pembaca. Setelah menampilkan alinea pembuka, baru secara teratur menuliskan isi tulisan sesuai dengan kesimpulan yang diletakkan di bagian atas.

Tidak hanya berguna dalam menulis, pola pikir tersebut juga berguna untuk membuat pertanyaan kuesioner survei, baik survei tatap muka ataupun jajak pendapat.  Misal untuk membuat kuesioner survei jajak pendapat (polling) mengenai air tanah. Dari sekian banyak masalah mengenai air tanah, harus dipilih salah satu yang mempunyai kebaruan informasi, yakni ketersediaan air tanah. Di otak, sudah harus terbentuk bahan-bahan apa yang harus ditanyakan ke masyarakat untuk mencapai tujuan memberi ‘warning’ kepada masyarakat bahwa air tanah di Jakarta kondisinya terbatas.

Komprehensif

                Salah satu syarat untuk merencanakan suatu kota atau kabupaten adalah berpikir secara komprehensif. Kota tidak bisa dipandang dari satu sisi dari keberadaan bangunan fisik saja. Akan tetapi juga harus dilihat bagaimana masyarakat dan kehidupan sosial budayanya, kondisi fisik alam seperti kondisi topografi dan daerah rawan bencana, perekonomiannya, serta transportasinya.

Kebiasaan berpikir dalam lingkup global ini sangat berguna saat bekerja menjadi peneliti di media. Untuk membuat tulisan di koran baik yang basisnya dari hasil penelitian atau wawancara, dibutuhkan pola pikir yang komprehensif untuk bisa melihat semuanya secara gamblang.

Sebagai contoh, topik reklamasi Teluk Jakarta. Banyak hal yang bisa dilihat dari aspek reklamasi. Aspek tarik ulur kebijakan, dampak negatif reklamasi, pro-kontra mengenai reklamasi, pertumbuhan wilayah, dan sebagainya. Hal secara menyeluruh harus dipegang dulu untuk bisa menentukan satu topik bahasan yang menarik untuk diulas dan dibaca masyarakat.

Namun kelemahannya, akan sulit untuk menguasai satu hal jika memang tidak menekuni hal tersebut secara khusus. Seperti misalnya, mengenai persoalan banjir. Lulusan Planologi akan berpikir secara meluas bagaimana masalah banjir itu terjadi, dampak yang ditimbulkan, dan sebagainya. Namun, akan kesulitan jika harus ditanya bagaimana mengatasinya secara teknis

Sebenarnya hal ini jangan dipandang sebagai suatu kelemahan. Tapi harus dilihat bahwa ilmu planologi tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kerjasama dari bidang-bidang ilmu lainnya untuk menjadi satu konsep yang baik.

Sebagai catatan, hal kerjasama dengan tim saat membuat tugas-tugas kuliah perencanaan juga menjadi hal penting di dunia kerja. Terbiasa kerjasama dengan orang lain, membuat lebih toleransi menerima kelebihan dan kekurangan teman kerja satu tim.

Ilmu Sosial

Di luar semua keuntungan yang didapat dari ilmu planologi, masih ada satu hal yang kurang yaitu mengenai ilmu sosial. Saat aku berkuliah dari tahun 1996-2000, ilmu sosial seperti sosiologi atau antropologi tidak diajarkan. Juga dengan pengenalan penelitian kualitatif yang bisa sangat menunjang suatu perencanaan wilayah.

Dalam UU Penataan Ruang No. 26 tahun 2007, disebutkan hal mengenai Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat. Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk mengetahui rencana tata ruang, menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang, mengajukan keberatan terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang, serta mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pemerintah.

Mengacu pada hal tersebut, keterlibatan masyarakat tidak hanya saat membuat perencanaan dengan menyebarkan kuesioner saja. Akan tetapi juga harus ada penelitian kualitatif sederhana untuk mengetahui apa yang sebetulnya diinginkan masyarakat atas wilayahnya tersebut.

Seperti pada kasus penertiban Kampung Pulo di Jakarta Timur. Dengan ilmu sipil dan perencanaan, masyarakat di bantaran sungai tersebut jelas salah karena menempati lahan ilegal yang seharusnya sebagai tempat limpasan air. Mereka yang salah harus dipindah ke tempat yang legal. Pemindahannya pun sangat kaku dan melibatkan kekerasan.

Namun jika sebelumnya ada penelitian sosial sebelumnya, akan diketahui mengapa mereka bertempat tinggal di situ. Bagaimana proses adaptasi mereka terhadap banjir. Apakah ada keinginan untuk hidup lebih tenang lagi. Bahkan kemungkinan besar, mereka akan mau pindah ke rumah susun yang telah disediakan pemerintah dengan sukarela.

Setelah bekerja di dunia media, aku rasakan ilmu sosial tersebut juga sangat penting dalam dunia perencanaan kota dan wilayah. Semoga sudah ada tambahan kurikulum ilmu sosial dalam sekolah perencanan masa sekarang ini.

Berbagai bekal ilmu perencanaan yang didapat menjadi penunjang dalam dunia kerja media. Menulis panjang lebar ini menjadi senjata utama untuk berani menembus dunia kerja yang selama ini tidak ada dalam mimpi anak-anak plano angkatan 96. Sayang ilmu panjang dan lebar tersebut sekarang sudah mulai luruh seiring dengan tuntutan dunia kerja sehingga harus berusaha keras untuk menuliskan testimoni ini.

Ilmu mencari data dan melakukan penelitian menjadi bekal pendukung untuk menjadi lebih percaya diri bekerja sebagai peneliti di dunia media. Disusul oleh senjata ‘kerpik kompre’ yang sangat menunjang untuk melihat masalah secara keseluruhan.

Benar kata seorang teman, Planologi yang sering disingkat menjadi panjang dan lebar membuat lulusannya bisa berkiprah di dunia pekerjaan manapun. Tidak melulu harus menjadi Pegawai Negeri Sipil ataupun bekerja di Konsultan Perencanaan.

-tulisan ini menjadi bagian dari Buku Kenangan Prof Sugiono Soetomo DEA-

Posted in Uncategorized | Leave a comment