KRL MALAM

Sudah pukul 22.00 lebih.

Wajah-wajah penumpang KRL tampak lelah, lesu dan mengantuk

Saat sudah mendapat tempat duduk, ada yang langsung menyandarkan kepala di kursi dan tertidur. Bahkan ada yang sampai lupa turun di stasiun tujuan karena mengira sudah tidur di kasur.

Ada juga yang menunduk sambil memainkan HP. Entah chatting, main game atau menonton film

Ada juga yang tekun membaca buku. Kalau yang ini pemandangan cukup langka.

Sebentar lagi sampai Rawa Buntu . Kantuk tak tertahan dan ingin segera menghempaskan badan ke kasur.

 

Dan… saking asyiknya menulis cerpen ini, hampir saja Rawa Buntu terlewati. Bergegas melompat dari tempat duduk dan berjalan cepat ke pintu kereta. Nah…tepat…3 detik setelah saya turun, pintu tertutup.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PLANOLOGI dan DUNIA MEDIA

Bekerja di  media tidak ada dalam kamus mimpi anak-anak plano saat itu. Termasuk aku yang masuk pada tahun ke-5 Planologi UNDIP terbentuk. Namun, dorongan untuk mencoba hal baru, membuatku bekerja di sebuah media nasional sampai sekarang. Berbekal ilmu planologi dengan daya lenting yang tinggi dengan mudah bisa menyesuaiakan dengan situasi kondisi pekerjaan media

Sama seperti teman-teman seangkatan, gambaran pekerjaan setelah lulus kuliah hanyalah sebagai PNS atau bekerja di Konsultan Perencanaan. Namun karena bertekad untuk tidak menjadi PNS, pilihan lain adalah bekerja di konsultan dan mencoba bidang lain.

Jadilah setiap hari tekun membuka iklan lowongan kerja, melihat tulisan “Dibutuhkan Sarjana Planologi”. Sayang, tak satupun iklan lowongan yang memuat kata tersebut. Bahkan Bank Indonesia yang membutuhkan segala jenis lulusan tidak membutuhkan sarjana planologi. Meski demikian, masih berupaya memasukkan lamaran ke Bank Indonesia, sampai akhirnya harus menyerah karena lamaran ditolak pada tahap awal proses seleksi administrasi.

Aku sempat putus asa mengenai nasib ke depan. Harus bekerja dimana jika ingin menghindari pekerjaan Pegawai Negeri Sipil? Sampai suatu pagi, seorang sahabat menunjukkan iklan lamaran pekerjaan Harian Kompas. Saat itu, Harian Kompas membutuhkan seorang “Peneliti” dengan syarat lulusan sarjana Komunikasi, Psikologi, Statistik, dan Ekonomi. Ragu juga untuk mencoba setelah ‘ditolak’ Bank Indonesia. Namun, sahabat tersebut terus meyakinkan untuk mencoba. “Iseng-iseng berhadiah”, katanya dengan penuh semangat.

Akhirnya aku ikuti saran dia dan tetap tidak berharap banyak. Sebelumnya, aku juga telah memasukkan surat lamaran pekerjaan di Harian Kompas sebagai wartawan karena syarat yang dibutuhkan adalah sarjana lintas jurusan. Jadi surat lamaran ini adalah yang kedua.

Kira-kira berjarak tiga minggu dari saat surat lamaran menjadi “Peneliti” dimasukkan, pihak Kompas menelpon, meminta datang ke Jakarta untuk ikut dalam tes Psikotest sebagai peneliti. Telepon panggilan tersebut cukup mengejutkan juga karena tidak menyangka bisa lolos dalam tahap seleksi administrasi. Ternyata iseng-iseng berhadiahnya mulai terbukti.

Lima jenis test masuk mulai kujalani selama hampir enam bulan. Dari psikotest , wawancara psikologi, tes bahasa, tes bidang, sampai wawancara akhir dijalani perlahan. Bahkan sempat terdepak saat tes wawancara psikologi. Namun, dewi fortuna masih menaungiku. Sistem perekrutan mendadak diubah karena banyak pelamar yang gagal dalam tes bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadilah aku yang sempat terdepak dari sistem masuk kembali dalam sistem perekrutan.

Tes bidang menjadi pembuktian ketrampilan menulis ‘panjang dan lebar’ khas Planologi. Kami, peserta tes diminta untuk membuat profil kota/kabupaten menggunakan sejumlah buku statistik BPS. Bagiku, tidak terlalu sulit untuk menulis profil kota/kabupaten karena saat kuliah beberapa kali membuat gambaran umum wilayah saat mengerjakan laporan Rencana Tata Ruang. Jadilah profil kota administrasi yang memenuhi dua lembar kertas folio bergaris.

Tes bidang ini yang membuatku percaya diri untuk melangkah dan bisa diterima bekerja. Ternyata benar, sebulan menunggu, datang pemberitahuan untuk mengikuti tahapan test selanjutnya, yakni tes wawancara.

Tes wawancara ini semakin membuatku percaya diri bahwa ilmu planologi juga dibutuhkan dalam dunia media. Agaknya pihak Kompas mulai melirik bidang planologi setelah mengeluarkan tulisan serial mengenai “Profil Otonomi Daerah seluruh kabupaten/kota di Indonesia”.

Lagi-lagi hasil penelitian mengenai skripsi banjir Semarang, cukup menyita perhatian pewawancara . Sekali lagi mulai percaya diri bahwa ilmu planologi berguna juga dalam dunia pekerjaan di luar PNS dan konsultan perencanaan.

Pencarian Data dan Survei

Bekerja sebagai peneliti media dituntut untuk bisa melakukan dua bidang pekerjaan sekaligus. Sebagai peneliti yang melakukan survei-menyebar kuesioner – mengolah – menuliskan hasil dengan bahasa populer dan singkat. Sisi lainnya melakukan supporting kepada redaksi dengan memberikan data-data sekunder tambahan dan infografis pendukung berita. Selain melalui survei, data-data pendukung juga didapatkan dari sejumlah instansi seperti BPS dan instansi-instansi pemerintah lainnya.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut juga menjadi tugas sehari-hari saat kuliah di Planologi. Survei misalnya. Dari tahapan membuat konsep, kuesioner, sampling, penyebaran kepada responden, pengolahan, sampai penulisan hasil menjadi salah satu pekerjaan pada beberapa Studio Perencanaan. Juga dengan pekerjaan teknis persiapan survei yang secara tidak langsung juga diajarkan.

Pekerjaan mencari data di sejumlah instansi juga pernah dilakukan saat kuliah. Data-data sekunder biadanya dibutuhkan sebagai bahan untuk membuat konsep perencanaan, materi tugas kuliah lainnya, serta untuk bahan pendukung skripsi. Pencarian data bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan dan ketrampilan ‘lobi-lobi’ untuk bisa mudah dan cepat mendapatkan data. Meski tidak diajarkan secara khusus oleh dosen, tapi diantara kami saling belajar untuk menjalani proses tersebut.

Pengolahan data statistik dengan alat SPSS juga pernah diperkenalkan saat kuliah. Saat bekerja, pengoperasian SPSS menjadi modal utama untuk mengolah hasil penelitian. Meskipun sempat lupa tapi setelah mengikuti beberapa pelatihan dari kantor, ketrampilan tersebut mudah diingat.

Pembuatan infografis. Pekerjaan ini menjadi hal baru. Namun, sebagai lulusan Planologi sudah mempunyai modal untuk menyajikan data-data sekunder menjadi sebuah infografis. Bantuan mesin pencari Google yang semakin canggih semakin mempermudah pembuatannya.

Grafis saat kuliah, biasanya sebagai pelengkap konsep rencana tata ruang, berupa grafik garis, grafik batang, tabel, atau peta. Grafis di Koran, lebih dikenal dengan sebutan infografis. Infografis ini lebih bervariasi bentuknya, tidak hanya grafik, tabel atau peta. Tapi juga data kronologi suatu peristiwa yang didapatkan dari penelusuran pemberitaan Koran, memberi penjelasan mengenai suatu konsep/definisi, olahan produk hukum, hasil perhitungan data sekunder, bagan, dan lain-lain yang intinya harus bisa memudahkan pembaca untuk mengerti dengan cepat sebelum membaca artikel di sebelahnya. Infografis ini akan semakin menarik dengan tambahan beberapa ilustrasi gambar/foto yang diolah oleh bagian grafis.

Selain hal-hal tersebut diatas, hal utama yang harus dilakukan sebagai pekerja media adalah menulis. Menulis ini juga modal utama lain dari lulusan Planologi.

 Tulisan Panjang-Lebar

                Menulis panjang-lebar selalu menjadi bahan olok-olokkan kami saat kuliah dulu. Lulus dari Planologi, apa yang didapat sih? Jawabannya adalah ketrampilan menulis panjang lebar sampai menghabisan berlembar-lembar kertas. Sampai timbul rumor bahwa hasil ujian akan mendapat bagus jika menghabiskan berlembar-lembar kertas. Tentu saja ini hanya sekadar bahan becandaan kami.

Awalnya kupikir ini hanya bahan bercandaan saja. Namun, setelah mulai memasuki dunia kerja di media, mulai merasakan manfaatnya. Terbiasa untuk berpikir cepat untuk membuat konsep perencanaan berlaku juga di media, walau bukan berprofesi sebagai wartawan.

Menulis deskripsi dan naratif menjadi bagian dari penulisan Rencana Tata Ruang dan sejumlah paper mata kuliah lainnya. Hasilnya sudah dipastikan cukup panjang dan bertele-tele.

Setelah bekerja di media, menulis panjang-lebar dan bertele-tele harus diubah. Awalnya cukup sulit bagiku untuk menulis pendek dan langsung pada tujuan. Berkali-kali mencoba, hasilnya masih tetap berlembar-lembar tanpa jelas maksud tulisan.

Namun, pelatihan yang diberikan oleh kantor ditambah dengan rutinitas membaca Koran berhasil mengubah gaya penulisan dari panjang-lebar menjadi tulisan dengan bahasa populer, singkat dan informatif.

Selain mengubah gaya penulisan, ‘bahan-bahan mentah’ yang dibutuhkan untuk menulis di koran bukan hanya sekadar data sekunder. Bahan baku tulisan yang dibutuhkan selain data sekunder, juga data primer baik berupa hasil penelitian (jajak pendapat), hasil wawancara narasumber serta masyarakat. Kesemuanya harus diramu menjadi tulisan yang menarik, informatif, serta tidak membuat bingung pembaca. Jumlah halaman pun dibatasi maksimal 7.500 karakter atau sekitar 2 halaman.

Satu hal lagi yang penting dari tulisan di media, harus bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Jangan asal menuliskan segala macam konsep yang ada. Selamat tinggal tulisan ‘panjang dan lebar’.

Kerangka Pikir

Hal berharga lainnya dari ilmu perencanaan adalah pola pikir yang runut dari input, proses, sampai output yang didapatkan. Pola pikir tersebut didapatkan dari kebiasaan membuat kerangka pikir sebagai langkah awal proses penelitian dan membuat perencanaan.

Awalnya cukup sulit untuk membuat kerangka pikir ini. Namun, saat itu pak Holly mengajarkan cara yang mudah untuk mengingatnya, yaitu dengan masakan. Katanya waktu itu,”Kalau mau bikin roti bahan-bahannya apa saja, itu dimasukkan dalam tahapan input. Memanggang roti dan sebagainya dimasukkan sebagai ‘proses’, dan roti hasil yang jadi sebagai ‘output’. Sampai sekarang masih terkenang dengan istilah ‘Kerpik kompre’ (kerangka pikir komprehensif) yang saat kuliah sering menjadi bahan bercandaan kami angkatan 96.

Pemikiran yang sederhana tersebut dipraktekkan dalam membuat kerangka pikir. Seperti misalnya untuk membuat Rencana Tata Ruang Wilayah suatu kota, harus diketahui kondisi fisik alam, tata guna lahan, kependudukan, ekonomi, sarana prasarana, dan transportasi. Untuk mengetahui kondisi dasar suatu kota dibutuhakan analisis mendasar dengan memanfaatakan bahan inputan misalnya dari kondisi topografi dan geologi, peta tata guna lahan eksisting, data sosial kependudukan, data ekonomi dan sebagainya.

Pola pikir yang bertahap dan teratur ini sangat berguna ketika menjadi peneliti di media. Tulisan yang dihasilkan bisa mengalir dan menjelaskan satu persatu dengan bertahap. Cuma bedanya, kesimpulan dari  suatu hasil penelitian atau hasil wawancara diletakkan pada bagian atas sebagai alinea pembuka yang dalam dunia media dikenal sebagai ‘lead’. Lead ini sebagai modal awal tulisan untuk bisa menarik pembaca. Setelah menampilkan alinea pembuka, baru secara teratur menuliskan isi tulisan sesuai dengan kesimpulan yang diletakkan di bagian atas.

Tidak hanya berguna dalam menulis, pola pikir tersebut juga berguna untuk membuat pertanyaan kuesioner survei, baik survei tatap muka ataupun jajak pendapat.  Misal untuk membuat kuesioner survei jajak pendapat (polling) mengenai air tanah. Dari sekian banyak masalah mengenai air tanah, harus dipilih salah satu yang mempunyai kebaruan informasi, yakni ketersediaan air tanah. Di otak, sudah harus terbentuk bahan-bahan apa yang harus ditanyakan ke masyarakat untuk mencapai tujuan memberi ‘warning’ kepada masyarakat bahwa air tanah di Jakarta kondisinya terbatas.

Komprehensif

                Salah satu syarat untuk merencanakan suatu kota atau kabupaten adalah berpikir secara komprehensif. Kota tidak bisa dipandang dari satu sisi dari keberadaan bangunan fisik saja. Akan tetapi juga harus dilihat bagaimana masyarakat dan kehidupan sosial budayanya, kondisi fisik alam seperti kondisi topografi dan daerah rawan bencana, perekonomiannya, serta transportasinya.

Kebiasaan berpikir dalam lingkup global ini sangat berguna saat bekerja menjadi peneliti di media. Untuk membuat tulisan di koran baik yang basisnya dari hasil penelitian atau wawancara, dibutuhkan pola pikir yang komprehensif untuk bisa melihat semuanya secara gamblang.

Sebagai contoh, topik reklamasi Teluk Jakarta. Banyak hal yang bisa dilihat dari aspek reklamasi. Aspek tarik ulur kebijakan, dampak negatif reklamasi, pro-kontra mengenai reklamasi, pertumbuhan wilayah, dan sebagainya. Hal secara menyeluruh harus dipegang dulu untuk bisa menentukan satu topik bahasan yang menarik untuk diulas dan dibaca masyarakat.

Namun kelemahannya, akan sulit untuk menguasai satu hal jika memang tidak menekuni hal tersebut secara khusus. Seperti misalnya, mengenai persoalan banjir. Lulusan Planologi akan berpikir secara meluas bagaimana masalah banjir itu terjadi, dampak yang ditimbulkan, dan sebagainya. Namun, akan kesulitan jika harus ditanya bagaimana mengatasinya secara teknis

Sebenarnya hal ini jangan dipandang sebagai suatu kelemahan. Tapi harus dilihat bahwa ilmu planologi tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kerjasama dari bidang-bidang ilmu lainnya untuk menjadi satu konsep yang baik.

Sebagai catatan, hal kerjasama dengan tim saat membuat tugas-tugas kuliah perencanaan juga menjadi hal penting di dunia kerja. Terbiasa kerjasama dengan orang lain, membuat lebih toleransi menerima kelebihan dan kekurangan teman kerja satu tim.

Ilmu Sosial

Di luar semua keuntungan yang didapat dari ilmu planologi, masih ada satu hal yang kurang yaitu mengenai ilmu sosial. Saat aku berkuliah dari tahun 1996-2000, ilmu sosial seperti sosiologi atau antropologi tidak diajarkan. Juga dengan pengenalan penelitian kualitatif yang bisa sangat menunjang suatu perencanaan wilayah.

Dalam UU Penataan Ruang No. 26 tahun 2007, disebutkan hal mengenai Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat. Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk mengetahui rencana tata ruang, menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang, mengajukan keberatan terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan tata ruang, serta mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pemerintah.

Mengacu pada hal tersebut, keterlibatan masyarakat tidak hanya saat membuat perencanaan dengan menyebarkan kuesioner saja. Akan tetapi juga harus ada penelitian kualitatif sederhana untuk mengetahui apa yang sebetulnya diinginkan masyarakat atas wilayahnya tersebut.

Seperti pada kasus penertiban Kampung Pulo di Jakarta Timur. Dengan ilmu sipil dan perencanaan, masyarakat di bantaran sungai tersebut jelas salah karena menempati lahan ilegal yang seharusnya sebagai tempat limpasan air. Mereka yang salah harus dipindah ke tempat yang legal. Pemindahannya pun sangat kaku dan melibatkan kekerasan.

Namun jika sebelumnya ada penelitian sosial sebelumnya, akan diketahui mengapa mereka bertempat tinggal di situ. Bagaimana proses adaptasi mereka terhadap banjir. Apakah ada keinginan untuk hidup lebih tenang lagi. Bahkan kemungkinan besar, mereka akan mau pindah ke rumah susun yang telah disediakan pemerintah dengan sukarela.

Setelah bekerja di dunia media, aku rasakan ilmu sosial tersebut juga sangat penting dalam dunia perencanaan kota dan wilayah. Semoga sudah ada tambahan kurikulum ilmu sosial dalam sekolah perencanan masa sekarang ini.

Berbagai bekal ilmu perencanaan yang didapat menjadi penunjang dalam dunia kerja media. Menulis panjang lebar ini menjadi senjata utama untuk berani menembus dunia kerja yang selama ini tidak ada dalam mimpi anak-anak plano angkatan 96. Sayang ilmu panjang dan lebar tersebut sekarang sudah mulai luruh seiring dengan tuntutan dunia kerja sehingga harus berusaha keras untuk menuliskan testimoni ini.

Ilmu mencari data dan melakukan penelitian menjadi bekal pendukung untuk menjadi lebih percaya diri bekerja sebagai peneliti di dunia media. Disusul oleh senjata ‘kerpik kompre’ yang sangat menunjang untuk melihat masalah secara keseluruhan.

Benar kata seorang teman, Planologi yang sering disingkat menjadi panjang dan lebar membuat lulusannya bisa berkiprah di dunia pekerjaan manapun. Tidak melulu harus menjadi Pegawai Negeri Sipil ataupun bekerja di Konsultan Perencanaan.

-tulisan ini menjadi bagian dari Buku Kenangan Prof Sugiono Soetomo DEA-

Posted in Uncategorized | Leave a comment

WANT, HOPE, and DREAM

Jangan pernah ‘main-main’ dengan tiga kata ini. Keinginan (want), harapan (hope), dan mimpi, tiga kata yang membuat hidupku berubah dan terus berkembang. Tiga kata yang bermakna berupaya menggapai satu tujuan ke depan tersebut terus membuatku tetap bersemangat, meski terkadang tak mudah, ataupun gagal menggapainya. Namun aku yakin, jika aku punya keinginan kuat, seberapa sulitnya tujuan itu akan tercapai. Meski…. Bukan hari ini, tapi hari esok…esok dan esok lagi sampai Tuhan menghendakinya.

Saat kecil, aku bercita-cita menjadi arsitek seperti bapakku. Berbekal ketrampilan menggambar secara genetis dan tekad kuat untuk masuk Arsitek UNDIP, membuatkan siang malam belajar untuk menembus UMPTN (tes PT saat itu). Dan….. Tuhan punya rencana lain. Aku gagal masuk Arsitek tapi sebagai gantinya, masuk jurusan sebelahnya Arsitektur Kota. Kesal…. Pasti. Cita-citaku kandas. Tapi sekali lagi Tuhan punya harapan indah lain untukku. Planologi lebih tepat untukku yang ternyata punya bakat lain menulis.

Keinginan…. Saat remaja, salah satu keinginanku adalah bisa memasukkan artikel pada majalah FEMINA. Majalah langganan ibuku itu memberiku inspirasi menulis cerita-cerita pendek di seputar kehidupanku. Sekali mencoba mengirim artikel, tapi gagal. Kecewa… pasti tapi saat itu aku yakin suatu saat bisa melakukannya.

Kagum…. Kagum pada artikel-artikel KOMPAS yang telah kubaca sejak kecil. Dalam pikiranku saat itu, gimana caranya bisa menulis seperti itu? Sembari terus berkeinginan, beberapa artikel KOMPAS sering aku gunakan untuk membuat pekerjaan rumah dan tugas-tugas kuliah.

DAN… tanpa aku pernah bermimpi untuk bekerja di media, Tuhan membukakan jalan bagiku untuk ikut menulis di KOMPAS dan menjadi bagian dari KOMPAS. Karena bukan mimpiku, aku sempat ‘jatuh’ dan hampir gagal menjadi karyawan KOMPAS. Sekali lagi, tangan Tuhan membentuk kembali mimpiku untuk menjadi penulis.

Semuanya sudah dalam genggaman. Menjadi arsitek kota dan penulis. Tapi mimpiku belum selesai. Masih ada keinginan, harapan dan mimpi kecil dan besar lain yang terus mengelilingiku.

Takut dan Berani

Takut berkeinginan, takut berharap, bahkan takut bermimpi pernah kualami. Bahkan kadang terus membayangi langkahku ke depan. Tapi niat dan tekad kuatku membuat alam semesta dan Tuhan merestuiku, meski harus melalui perjuangan yang panjang.

Dulu, aku takut untuk berlari. Ya olahraga lari. Aku membuat ‘dinding pikiran’ bahwa aku tidak kuat berlari karena aku gemuk dan bermasalah dengan pernapasan. Seperempat abad aku terbelunggu dinding tersebut, sampai akhirnya aku mulai BERANI bermimpi untuk bisa berlari.

Berat di awal, pasti…. Tapi sekali lagi saat aku berkeinginan kuat, aku bisa menggapainya. Dan aku bisa berlari … kuat berlari sampai 5 kilometer. Meski masih tergolong pelari amatir dan pelari siput, tapi aku menggantungkan harapan untuk bisa meraih medali dalam lomba-lomba lari.

Takut berharap…. Aku tidak pernah berharap untuk bisa menginjakkan kaki ke negara lain. Saat itu aku merasa tidak mampu secara materi dan merasa tidak sanggup berkomunikasi dengan bahasa inggris di negara luar Indonesia. Tapi… lewat tangan ibuku, aku berani berharap untuk melangkah luar Indonesia, walau masih sebatas liburan. Dan…tanpa aku duga, sudah empat benua kurambah : Amerika, Eropa, Asia, dan Australia.

Kali ini, aku mencoba bermimpi untuk melangkah lebih jauh ke negara-negara lain karena penelitian, seminar, ataupun sekolah… Kapan itu? …cantolin dulu mimpi itu 😀

Takut keluar ‘rumah’. Rumah kali ini adalah tempat nyaman bagiku selama 15 tahun terakhir ini. Aku takut untuk melangkah keluar kantor dan mencoba hal-hal baru di luar kantor. Takut jika tak sanggup bersaing di luar. Takut mencoba hal-hal baru.

Tapi kali ini harus aku coba untuk sedikit melangkah keluar…mumpung pintu rumah sudah mulai terbuka. Kali ini harus ada niat kuat untuk menggantungkan, meski masih tahap ancang-ancang untuk memasang cantolannya.

Takut jatuh cinta… Berani bermimpi untuk jatuh cinta lagi ini langkah yang tidak mudah. Berkali-kali dikecewakan laki-laki urusan cinta, membuatku berhati-hati untuk berkeinginan, berharap ataupun bermimpi. Tembok tinggi kadung aku bangun supaya aku tidak terluka lagi.

Tapi … pelan-pelan tembok itu terkikis oleh rasa cinta dari orang-orang di sekelilingku. Yah meski belum ‘ambruk’, aku mencoba ikut untuk menghancurkannya. Supaya kali ini aku bisa bermimpi jatuh cinta dengan orang yang tepat.

Tak mudah berharap, berkeinginan dan bermimpi. Jadi saat kamu (yang membaca tulisan ini) mempunyai perasaan itu, jangan takut untuk ‘menggantungkannya’ setinggi mungkin. Secara tidak langsung, pasti kita akan berupaya keras untuk menggapai dan menjalaninya. Alam semesta dan Tuhan akan membantu kita yang tentunya disesuaikan dengan rencana Tuhan untuk kita.

 

Terinspirasi dari film LALALAND…..

Terhenti tiga tahun mengisi blog ini karena rutinitas pekerjaan. Tapi ada kerinduan untuk mengisinya kembali. Semoga tulisan ini mengawali langkah untuk terus menulis mencurahkan ide-ide di otak

26/01/2017

 

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Mengulang Hari Kelahiran

Entah, tahun ini umurku sudah berapa ya? 2015-1978 = 37 tahun…. (ya ampun harus mengambil kalkulator untuk menghitungnya). Smoga ini bukan langkah untuk melupakan umur.

Umur hanyalah angka penanda bahwa kita sudah hidup di dunia selama sekian tahun. Penanda pula bahwa kita harus peduli pada kesehatan. Penanda pula bahwa kita sudah dewasa dan harus bersikap dewasa.

Dewasa…yak kata itu cukup menghantuiku akhir-akhir ini? Sudahkah saya cukup dewasa menghadapi segala permasalahan hidup? Saya malu untuk mengiyakan bahwa saya telah dewasa.

Saya justru merasa akhir2 ini, kehilangan kesabaran, tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Saya merasa kehilangan diri saya yang dulu. Cap emosi, tukang marah mulai melekat ke diriku.

apakah penyebabnya? Lama berdialog dengan diriku. saya berpikir jangan-jangan karena saya terlalu sering menyimpan rasa senang, jengkel, sedih sendiri. Aku terlalu pelit untuk membaginya ke orang lain. Saya menciptakan tembok tinggi supaya orang lain tidak perlu melihat diriku.

Bukan tanpa alasan saya melakukan itu. Saya merasa banyak kekecewaan yang belum tersembuhkan.

Ah…ini kok malah ngomongin keluhan. saya tak kuasa berkata2 lagi. tembok itu terlalu tebal dan kuat, bahkan saya tak sanggup lagi berkata-kata lagi dalam tulisan.

Saya punya harapan kuat ke depan , bisa meruntuhkan tembok bikinan saya sendiri. Saya rindu kehadiran teman yang bisa mendengarkan saya, bukan menghakimi saya. Teman yang bisa membuat saya tertawa lepas cekikian tanpa beban.

Teman..iya teman..teman, sekaligus sahabat. syukur-syukur bisa bertemu dengan beda jenis kelamin.

Amin.

18 Juni 2015

Ditengah kegalauan dengan kondisi kantor, kondisi pribadi dan menahan tangisan dalam hati

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEKECEWAAN

Bukan sekali ini aku kecewa. Sudah puluhan kali aku merasakan hal tersebut. Yah sudah pengalaman. Biasanya aku punya trik khusus utk melupakannya.

Tapi kali ini tidak. Susah sekali melupakannya. Aku tetap merasa sakit. Hampir merasa diperbudak urusan kantor. dan..yah…. merasa tak dihargai…

Tapi…meski sulit, tetap harus dibuang. Masih banyak yg harus kukerjakan selama sebulan ini. Butuh perban dan kapas yang kuat utk mengobati luka hati ini.

Butuh pelukan kuat utk bs melegakan hati.

Selamat malam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pernikahan

Untuk sekian kalinya saya menghadiri pernikahan sahabat2 saya. kapan ya trakhir kali menghadiri pernikahan seorang sahabat?lupa. Mungkin 5 tahun yll. Kali ini tgl 14 maret saya menghadirinya lagi. Pernikahan seorang teman kontrakan yg sekaligus teman ngecipris, teman dolan, dan teman diskusi.

Ada kerinduan jg utk bisa menjadi lakon dalam sebuah pernikahan. Entah kapan itu.entah berapa tahun lagi. Mungkin Tuhan sedang merencanakan sebuah rencana hebat untukku.

Marilah kita tunggu sembari menikmati dan mensyukuri dunia ini.

Happy wedding Indah

Ha

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Masih Ada Harapan Terang untuk Jakarta

Banjir, macet, kriminalitas memang masih terus menghantui Jakarta setahun ini. Sisi gelap Jakarta tersebut tidak secara instan bisa disulap hilang. Sebaliknya sisi terang mulai muncul. Taman-PKL-permukiman padat-trotoar, perlahan tertata. Sisi terang inilah yang memberi harapan pada masyarakat pada terwujudnya ‘Jakarta Baru’.

Oleh : M. Puteri Rosalina

Masalah banjir, macet, kriminalitas, sampah bahkan ketersediaan air baku bukan saja menjadi milik kota Jakarta. Kota besar lain di Indonesia bahkan dunia pun juga mengalami hal yang sama. Semuanya muncul karena ekses dari peningkatan jumlah penduduk akibat proses urbanisasi.

                Mengatasi masalah Jakarta tidak mudah mengingat semuanya sudah telanjur mengakar. Banjir misalnya, sudah sejak jaman Belanda, Jakarta selalu kebanjiran saat musim hujan. Kondisi bentang alam Jakarta yang terletak di dataran rendah, berhadapan dengan laut, serta dialiri 13 sungai menakdirkan kota ini selalu banjir. Tidak hanya faktor alam, perilaku warganya yang merusak lingkungan dengan membuang sampah ke sungai, serta membangun di daerah tangkapan air, semakin memperburuk kondisi.

Namun bukan berarti pemerintah dari dulu sampai sekarang tinggal diam. Berbagai proyek telah digulirkan untuk mengatasi banjir Jakarta. Namun, proyek-proyek tersebut sifatnya tambal sulam saja, hanya serius dilakukan setelah banjir besar terjadi, bahkan tidak menangani banjir dari akar persoalan yaitu mengurangi air larian di hulu daerah aliran sungai.

                Berbeda dengan banjir, kemacetan baru muncul sekitar tahun 1990-an ketika penggunaan kendaran pribadi semakin meningkat. Sejumlah penanganan macet sejak kepemimpinan Wiyogo Atmodarminto sudah ada. Salah satu yang masih berlaku sampai sekarang adalah kebijakan pembatasan penumpang three in one di beberapa ruas jalan. Upaya lain yang terus dilakukan adalah pembangunan jalan baik landed, fly over, sampai underpass. Tapi tetap saja problem transportasi tersebut belum selesai.

                Kondisi banjir dan macet yang masih berlangsung sampai sekarang tergambar dalam hasil Survei Evaluasi Setahun Kinerja Gubernur Jakarta. Publik menilai kondisi transportasi, lingkungan hidup dan keamanan cukup buruk yang diwakili oleh nilai lima.

Akan tetapi bukan berarti Jokowi-Ahok selama setahun ini tidak melakukan perbaikan dalam tiga bidang tersebut. Transportasi misalnya, Jokowi lebih fokus pada pengembangan moda transportasi umum massal untuk mengurangi kemacetan. Sejumlah armada bus kecil/besar dan bus Transjakarta telah dipesan untuk menambah armada. Namun karena terkendala anggaran, pesanan datang terlambat. Selain itu juga merevitalisasi angkutan umum baik kondisi fisik armada sampai perbaikan manajemen. Rencana pembangunan monorel/MRT yang sempat ’mati suri’ bertahun-tahun dihidupkan kembali.

                Sejumlah tindakan penanganan banjir, macet, dan keamanan yang telah dilakukan memang tidak serta menghilangkan masalah. Setidaknya butuh proses lebih dari lima tahun untuk bisa menanggulanginya.

                Nilai merah pada tiga bidang tersebut tidak memengaruhi penilaian publik pada seluruh kondisi Jakarta. Indeks penilaian kondisi Jakarta berkisar pada angka 6 yang berarti baik. Meski bukan angka yang ‘briliant’ tapi sudah menunjukkan ada perubahan di Jakarta.

                Perubahan itu nyata dan memberi harapan baru bahwa semua masalah Jakarta akan sirna. Sejak dilantik setahun yang lalu, Jokowi-Ahok selalu memunculkan gebrakan-gebrakan baru yang terkadang melahirkan pro-kontra di masyarakat.

Terakhir yang kontroversial adalah penataan PKL di Tanah Abang. Dari dulu masyarakat dan pemerintah sudah pasrah kondisi Tanah Abang yang selalu ruwet dan macet. Akan tetapi Agustus lalu, ada perubahan besar terjadi. Sejak itu, tidak ditemukan lagi keruwetan dan kemacetan di Tanah Abang. Publik menilai cukup puas (nilai 7) dengan kebijakan penataan PKL Tanah Abang.

Tidak hanya Tanah Abang, gebrakan-gebrakan lain yang mengubah wajah Jakarta melahirkan pujian pada kondisi Jakarta. “Jakarta sekarang lebih baik-lebih indah-lebih rapi,” kata Agus seorang tukang ojek yang beroperasi di Stasiun Tanah Abang. “Ada kemajuan signifikan dari Jakarta,” sebut Iswandono yang sudah 38 Tahun tinggal di Jakarta.

                Sebenarnya yang dilakukan pemimpin baru Jakarta tersebut bukanlah hal yang besar dan baru. Jokowi dalam sebuah wawancara di televisi menyebutkan ingin menjadikan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi dan manusiawi.

Keinginan menjadikan Jakarta sebagai kota yang manusiawi tersebut diturunkan ke dalam sembilan program kerja unggulan : pengembangan angkutan umum massal, pengendalian banjir, perumahan rakyat dan penataan kampung, pengembangan RTH, penataan PKL, pengembangan pendidikan, kesehatan, budaya, serta pelayanan publik.

                Program unggulan tersebut sebenarnya bukan program baru. Jokowi hanya meneruskan kebijakan gubernur-gubernur sebelumnya. Seperti upaya penanganan banjir dengan normalisasi sungai, pembangunan polder, revitalisasi situ, serta pengembangan kapasitas sungai dan drainase. Dulu, program tersebut tidak pernah dituntaskan pelaksanaannya. Atau bahkan hanya berhenti pada keluarnya sebuah produk hukum tanpa realisasi yang tegas.

Pelaksanaan Kebijakan

Sejumlah kebijakan mulai dilaksanakan dan diterapkan dalam setahun kepemimpinannya. Jokowi-Ahok memang belum menuntaskan semua masalah yang ada tapi mencoba untuk melaksanakan 9 program tersebut secara bersamaan.

Perumahan rakyat, misalnya. Pada beberapa segmen telah menunjukkan hasil dengan pembangunan kampung deret di Tanah Tinggi, relokasi penduduk di bantaran sungai/rel KA ke sejumlah rusun yang tadinya tidak terpakai, sampai proses pembangunan rusun baru. Pengembangan pendidikan-kesehatan dengan meluncurkan program Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Meski dalam pelaksanaannya masih banyak kendala.

Hasil kerja nyata tersebut juga dinilai positif oleh publik. Nilai indikator perumahan yang pada evaluasi 100 hari kinerja masih mendapat nilai 5, setahun kemudian naik menjadi 6, yang berarti membaik.

 

Apresiasi Positif

Sisi buruk Jakarta memang masih ada, tapi masyarakat mengapresiasi positif apa yang telah dilakukan gubernur-wabub selama setahun ini. Apresiasi tersebut ditunjukkan dalam penilaian dengan skala 6 sampai 8 pada masing-masing indikator. Masyarakat cukup puas dengan apa yang telah dilakukan Jokowi setahun ini.

                Apresiasi bagus dari masyarakat tidak otomatis diikuti oleh keyakinan dengan kinerja seorang pemimpin wilayah. Banyak kasus terjadi setelah mendapat pujian dari masyarakat, pemimpin akan terlena dan kinerjanya menurun. Kali ini berbeda, publik Jakarta cukup yakin dengan kepemimpinan Jokowi-Ahok yang ditunjukkan dengan nilai 7.

                Jokowi-Ahok tidak boleh terlena dengan apa yang telah dilakukannya setahun ini. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan karena selama ini hanya menyentuh permukaan masalah dan dalam skala kecil saja. Jangan sampai merusak harapan Ciko (36), warga yang setiap harinya menempuh kemacetan Bekasi-Rawamangun. ”Semoga kemacetan ini bisa terpecahkan tak berapa lama lagi”.

 

 

 

 

PENILAIAN KEPUASAN dan HARAPAN terhadap

SATU TAHUN KEPEMIMPINAN GUBERNUR DKI JAKARTA

INDIKATOR

 KONDISI JAKARTA

KEPUASAN

HARAPAN

Lingkungan Hidup

5.96

6.41

7.61

Air bersih

6.86

7.00

7.48

Pendidikan

7.25

7.55

8.00

Kesehatan

6.97

7.32

7.67

Relasi Sosial

7.56

7.66

Text Box: Keterangan :<br /><br />
Penilaian kondisi saat ini : 1 sangat buruk ; 10 sangat baik<br /><br />
Penilaian kepuasan kinerja : 1 sangat tidak puas ; 10 sangat puas<br /><br />
Penilaian harapan kinerja : 1 sangat tidak yakin ; 10 sangat yakin</p><br />
<p>7.68

Ekonomi

6.05

6.47

7.11

Perumahan

6.00

6.75

7.35

Infrastruktur

6.21

6.55

7.44

Transportasi Publik

5.74

6.02

7.29

Keamanan

5.08

5.55

6.89

Birokrasi

6.91

7.19

7.56

Pelayanan Listrik

7.18

8.63

7.56

Sarana Wisata

6.71

7.73

7.50

Total Penilaian

6.50

6.99

7.47

Metode Survei :

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka diselenggarakan LItbang Kompas pada …… Sebanyak 596 responden berusia 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari daftar pemilih tetap pada Pilkada Gubernur Jakarta 2012. Responden berdomisili di Jakarta. Menggunakan metode ini pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian ± 4 persen. Meski demikan, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil skor penilaian warga merupakan skor rata-rata 13 aspek persoalan yang dihimpun dari 47 sub indikator persoalan

 

PROGRAM KERJA PEMPROV DKI JAKARTA

Program

Sejumlah Kebijakan

1.    Pengembangan Sistem angkutan umum massal

Peremajaan bus sedang dengan pola hibah dan subsidi, penambahan armada bus& bus transjakarta, pembangunan koridor XIII bus transjakarta, penertiban parkir, Rencana penerapan ERP, transportasi air di Marunda, pembangunan MRT, tarif parkir tinggi di badan jalan

2.    Pengendalian banjir

Normalisasi sungai ciliwung, Pesanggrahan, revitalisasi waduk (Pluit, Ria Rio, Tomang Barat,

3.       Perumahan rakyat dan penataan kampung

Perbaikan Rusun Marunda, pembangunan kampung deret di Tanah TInggi, Pembenahan kampung kumuh, relokasi permukiman di sekitar waduk Pluit, pembangunan rusunawa di Tambora,

4.       Pengembangan RTH

Menambah taman di Waduk Pluit, RIa Rio, mengembangkan 1000 taman interaktif di kelurahan

5.       Penataan PKL

PKL Tanah Abang, Pasar Gembrong, Pasar Minggu, Jatinegara, kawasan Kota

6.       Pengembangan pendidikan

Kartu Jakarta Pintar

7.       Pengembangan kesehatan

Kartu Jakarta Sehat, dokter keluarga

8.       Pengembangan budaya

PNS mengenakan baju betawi setiap rabu, pesta rakyat

9.    Pengembangan pelayanan publik

Mengubah desain tata ruang tempat pelayanan public, pembentukan RT,RW, dan KTP untuk warga Tanah Merah dan Kampung Beting, lelang jabatan birokrasi, merombak jajaran SKPD, publikasi APBD DKI Jakarta,

Sumber :Litbang Kompas/PUT/STI, diolah dari pemberitaan Kompas

Posted in Uncategorized | Leave a comment